Tak Mau Urus Cucu, Menantu Ini Aniaya Mertua Hingga Patah Tulang Rusuk
Jakarta -
Tidak sedikit orang tua yang meminta bantuan kakek atau nenek untuk menjaga anak saat mereka bekerja. Meski sering dilakukan dalam keluarga, mengasuh cucu sebenarnya bukan kewajiban para lansia. Perbedaan pandangan soal hal ini bahkan bisa memicu konflik, seperti kasus satu ini yang terjadi di China.
Melansir SCMP, seorang wanita di Kota Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China, menjadi sorotan setelah diduga menganiaya ibu mertuanya hingga mengalami empat tulang rusuk patah. Perselisihan itu bermula karena sang mertua memilih menemui kekasihnya daripada mengurus cucu.
Menurut laporan media setempat, pasangan suami istri tersebut memiliki dua anak dan bekerja di kota yang berbeda. Karena kesibukan mereka, kedua anak dititipkan kepada sang nenek, Shen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah mulai muncul ketika salah satu anak menghubungi ibunya melalui kamera pengawas di rumah. Bocah itu mengaku sedang tidak enak badan dan mengatakan neneknya tidak mau memeriksa suhu tubuhnya.
Mendengar hal tersebut, sang ibu langsung pulang menggunakan kereta cepat dan tiba di rumah sekitar satu jam kemudian. Saat dimintai penjelasan, Shen mengaku cucunya sulit diatur. Ia juga mengatakan sedang mengalami sakit gigi. Menantunya sempat menawarkan untuk mengantarnya ke rumah sakit, tetapi Shen menolak karena ingin bertemu dengan kekasihnya.
Tak hanya itu, Shen juga menegaskan bahwa dirinya sudah tidak ingin lagi mengasuh cucu dan ingin menikmati kehidupannya sendiri. Pernyataan tersebut memicu pertengkaran hebat hingga berujung pada aksi kekerasan. Sang menantu diduga memukul Shen hingga mengalami luka di wajah dan empat tulang rusuk patah.
Laporan menyebutkan, ini bukan kali pertama Shen menjadi korban kekerasan dari menantunya. Sebelumnya, ia juga pernah diserang karena dianggap kurang maksimal dalam menjaga cucu.
Suami pelaku, Jiao, justru membela istrinya. Ia menilai sang ibu lebih mementingkan hubungan asmaranya dibanding membantu mengurus cucu. Jiao bahkan mengatakan ibunya pantas menerima perlakuan tersebut. Menurutnya, jika tidak bersedia menjaga cucu, Shen seharusnya membantu kebutuhan ekonomi mereka dengan memberikan uang setiap bulan.
Di sisi lain, saudara perempuan Jiao membela ibunya. Ia mengungkapkan bahwa Shen bekerja sebagai petugas kebersihan dengan penghasilan yang pas-pasan, tetapi selama ini tetap berusaha membantu kedua putranya. Bahkan, Shen disebut telah memberikan lebih dari 100 ribu yuan atau sekitar Rp 266 juta kepada mereka.
Menurut sang kakak, setelah bertahun-tahun bekerja keras, Shen berhak menikmati hidup dan menjalin hubungan dengan pasangan seusianya tanpa harus dibebani kewajiban mengasuh cucu. Kini setelah menjadi korban penganiayaan, Shen tidak bisa bekerja maupun memberikan bantuan keuangan kepada anaknya.
Seorang pengacara dari Guangdong Zheqing Law Firm menjelaskan bahwa secara hukum, tanggung jawab membesarkan dan mendidik anak berada di tangan orang tua. Selama kedua orang tua masih mampu bekerja, kakek dan nenek tidak memiliki kewajiban hukum untuk mengasuh cucu.
Kasus ini masih dalam proses penyelesaian. Sementara itu, sang menantu dilaporkan berpotensi dijerat kasus penganiayaan dengan ancaman hukuman penjara hingga tiga tahun. Peristiwa tersebut juga memicu perdebatan di media sosial China mengenai batas tanggung jawab kakek dan nenek dalam mengasuh cucu, serta pentingnya menyelesaikan konflik keluarga tanpa kekerasan.
(vio/vio)