Smelter Tembaga Freeport Senilai US$4,2 Miliar Siap Beroperasi Kembali pada September 2026
Warta Ekonomi, Jakarta -
PT Freeport Indonesia (PTFI) memastikan smelter tembaga di Gresik akan kembali beroperasi pada September 2026 setelah sempat terhenti akibat terganggunya pasokan konsentrat dari tambang Grasberg, Papua.
Kembalinya operasi smelter tersebut menjadi langkah penting bagi Freeport untuk memulihkan rantai hilirisasi tembaga nasional. Fasilitas yang berada di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, itu merupakan proyek pengolahan mineral dengan nilai investasi sekitar US$4,2 miliar.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan perusahaan memanfaatkan masa penghentian operasi untuk melakukan pemeriksaan, pemeliharaan, dan perbaikan fasilitas agar siap menerima kembali pasokan konsentrat dari tambang Papua.
"Penghentian operasi tersebut memungkinkan kami melakukan berbagai kegiatan pemeliharaan dan perbaikan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa ketika smelter kembali memperoleh asupan konsentrat dari kegiatan hulu di Papua, seluruh proses telah diperiksa dan smelter dapat kembali beroperasi dengan baik," ujar Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7/2026).
Smelter baru Freeport memiliki kapasitas pengolahan sebesar 1,7 juta ton konsentrat per tahun. Selain itu, Freeport juga melakukan ekspansi terhadap PT Smelting dengan tambahan kapasitas sebesar 300.000 ton konsentrat per tahun.
Dengan tambahan kapasitas tersebut, total kemampuan pemurnian konsentrat Freeport di dalam negeri mencapai sekitar 3 juta ton per tahun, termasuk fasilitas PT Smelting yang telah beroperasi sebelumnya.
Tony menjelaskan, pengoperasian kembali smelter akan dilakukan secara bertahap setelah pasokan konsentrat dari tambang Grasberg kembali tersedia.
"Smelter baru tersebut direncanakan mulai berproduksi kembali atau mengolah dan memurnikan konsentrat dari Papua pada September tahun ini. Setelah itu, proses ramp-up akan dilakukan hingga akhir tahun," kata Tony.
Dari sisi produksi, smelter baru tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 600.000 ton katoda tembaga per tahun. Jika digabungkan dengan produksi PT Smelting, total produksi katoda tembaga Freeport dapat mencapai sekitar 800.000 ton per tahun.
Selain tembaga, fasilitas pemurnian tersebut juga akan menghasilkan emas hingga 50 ton per tahun dan perak sekitar 200 ton per tahun. Produksi emas tersebut direncanakan akan diserap oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Baca Juga: Produksi Hanya 65%, Freeport Sebut Setoran ke Negara Bakal Turun di 2026
Baca Juga: Smelter Manyar Freeport Kembali Beroperasi September 2026, Kapasitas 1,7 Juta Ton Mulai Dikejar
Sebelumnya, smelter Freeport mulai memasuki tahap operasi pada Juni 2024 dan memulai produksi pada Agustus 2024. Namun, operasi fasilitas tersebut terganggu setelah terjadi kebakaran pada unit Gas Cleaning Plant pada Oktober 2024.
Setelah perbaikan selesai, smelter kembali berproduksi pada Mei 2025. Namun, aktivitas kembali terhenti setelah longsor di Grasberg Block Cave menyebabkan pasokan konsentrat dari tambang Papua terganggu.
Tony mengatakan proses pemulihan produksi tambang dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek keselamatan operasi.
"Kami masih melakukan berbagai perbaikan untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan operasional benar-benar aman. Oleh karena itu, proses ramp-up produksi berjalan lebih lambat daripada yang kami perkirakan sebelumnya," ujar Tony.
Dengan beroperasinya kembali smelter Gresik, Freeport menargetkan fasilitas tersebut dapat kembali mendukung peningkatan produksi tembaga, emas, serta kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.