Jakarta -

Budaya makan sate di Singapura kembali disorot. Salah satu tempat ikoniknya akan tutup Oktober, membuat warga lokal menyoroti budaya satay club yang dulu populer.

Singapura kembali kehilangan salah satu tempat makan yang lekat dengan budaya kulinernya. Satay by the Bay, salah satu tempat yang dikenal sebagai lokasi menikmati sate, dikabarkan akan tutup pada Oktober 2026 ini.

Penutupan ini membuat keberlangsungan budaya satay club di Singapura jadi sorotan. Pasalnya, sejumlah tempat makan sate ikonik di Negeri Singa sebelumnya juga telah hilang seiring perubahan zaman dan perkembangan kawasan kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari STOMPS (2/9) berikut faktanya.

1. Satay by the Bay Tutup

Satay ClubSatay Club Foto: Stomp

Satay by the Bay, salah satu tempat makan sate di Singapura, dikabarkan tutup pada Oktober. Kabar ini membuat warga kembali mengenang budaya satay club.

Penutupan tersebut bukan sekadar hilangnya tempat makan. Bagi banyak warga, lokasi ini menyimpan kenangan menikmati sate dalam suasana santai.

Kabar ini juga memunculkan pertanyaan tentang masa depan budaya satay club. Ruang makan terbuka dan sederhana kini semakin sulit ditemukan.

2. Sejarah Satay Club Singapura

Satay by the Bay merupakan kawasan makan terbuka di Gardens by the Bay, Singapura. Tempat ini menawarkan beragam makanan khas, salah satunya sate yang dibakar dan disajikan dengan bumbu pelengkap.

Keberadaan tempat makan seperti ini berkaitan dengan tradisi satay club yang sudah ada di Singapura sejak 1940-an. Satay Club pertama berada di sekitar Beach Road dan populer sebagai tempat makan malam hingga larut malam.

Pengunjung juga kerap mampir setelah menonton film untuk menikmati sate. Pada 1970-an, Satay Club kemudian berpindah ke Esplanade dan dikenal sebagai tempat makan sekaligus lokasi berkencan yang romantis.

3. Perpindahan dan Kenangan Warga

Sate kambing keroncong JatinegaraIlustrasi sate Foto: Detikcom / Atiqa Rana

Pada 1995, Satay Club kembali berpindah ke Clarke Quay. Saat itu, kawasan tersebut dipenuhi gerobak makanan dan live music.

Sate dijual dengan harga terjangkau dalam suasana yang ramai. Pengunjung harus menunggu meja kosong dan berdesakan dengan pelanggan lain.

Bagi warga lokal, pengalaman tersebut menjadi bagian dari masa kecil. Panas, asap, dan kerumunan membuat suasana satay club dirindukan dan jadi bahan nostalgia.

4. Lokasi Favorit Menikmati Sate

Elias Park di Pasir Ris pernah menjadi lokasi favorit menikmati sate. Tempat ini menawarkan suasana makan sederhana di dekat pantai.

East Coast Park juga masih sering dipilih warga Singapura. Namun, mencari tempat duduk di sana bisa menjadi tantangan.

Newton dan Lau Pa Sat tidak selalu disebut dalam kenangan warga lokal. Hal ini menunjukkan bahwa budaya satay berkaitan dengan suasana, bukan hanya makanan.

5. Masa Depan Budaya Satay Club

Satay ClubSatay Club Foto: Stomp

Penutupan Satay by the Bay memicu kekhawatiran tentang masa depan satay club. Sebab pengalaman makan sate di suasana terbuka dan sederhana bakal semakin sulit.

Sebagian warga berharap Singapura menghadirkan tempat makan sate dekat pantai. Konsep tersebut dinilai lebih 'dekat' dengan warga lokal.

Halaman 2 dari 2

Simak Video "Review Makanan Bertabur Serangga hingga Jangkrik di Restoran Singapura"
[Gambas:Video 20detik] (raf/adr)