Roberto Martinez Sang Penghancur Generasi Emas Belgia dan Portugal, Siapa Korban Berikutnya?

Roberto Martinez kembali menjadi sasaran kritik setelah langkah Portugal di Piala Dunia 2026 terhenti lebih cepat dari harapan. Kegagalan itu membuat pelatih asal Spanyol tersebut kembali dikaitkan dengan tudingan lama, yakni tidak mampu membawa generasi bertabur bintang meraih gelar besar.
Bahkan sebelum Portugal tersingkir, performa tim sudah menuai sorotan saat hanya mampu melewati laga pembuka melawan Republik Demokratik Kongo dengan susah payah. Sejak saat itu, perdebatan soal keputusan Martinez, termasuk penggunaan Cristiano Ronaldo, kembali menghangat.
Rekam Jejak di Belgia Masih Diperdebatkan
Nama Martinez memang tidak bisa dilepaskan dari generasi emas Belgia yang dihuni Eden Hazard, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Thibaut Courtois, Jan Vertonghen, hingga Toby Alderweireld.
Namun, tidak semua kegagalan Belgia sebenarnya terjadi saat ia berada di bangku pelatih.
Masih banyak yang mengaitkan tersingkirnya Belgia dari Piala Eropa 2016 dengan Martinez. Padahal ketika itu tim masih ditangani Marc Wilmots. Belgia secara mengejutkan kalah dari Wales di babak perempat final, hasil yang dianggap sebagai salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah sepak bola negara tersebut.
Martinez baru mengambil alih setelah turnamen itu berakhir.
BACA JUGA:
Piala Dunia 2018 justru menjadi pencapaian terbaik Belgia di bawah kepemimpinannya. Mereka melangkah hingga semifinal sebelum dihentikan Prancis, yang kemudian keluar sebagai juara dunia.
Banyak yang menilai duel Belgia melawan Prancis saat itu layak disebut sebagai “final sesungguhnya” karena kedua tim dianggap tampil sebagai kekuatan terbaik di turnamen tersebut. Belgia akhirnya finis di posisi ketiga dan mendapat sambutan meriah saat kembali ke negaranya.
Dua Turnamen Setelahnya Jadi Titik Balik
Sorotan terhadap Martinez mulai menguat setelah dua turnamen berikutnya.
Di Euro 2020, Belgia disingkirkan Italia pada babak perempat final. Italia kemudian menjadi juara, tetapi banyak yang menilai skuad Belgia saat itu memiliki kualitas untuk melangkah lebih jauh.
Situasi semakin memburuk di Piala Dunia 2022 Qatar.
Generasi emas Belgia mulai terlihat menua dan gagal melewati fase grup. Martinez tetap mempertahankan sebagian besar pemain yang sukses membawa Belgia bersinar empat tahun sebelumnya. Keputusan itu akhirnya tidak membuahkan hasil sesuai harapan.
Jika pencapaian pada 2018 dikesampingkan, kritik bahwa Martinez gagal memaksimalkan potensi Belgia memang akan terdengar masuk akal. Namun fakta bahwa Belgia pernah mencapai semifinal Piala Dunia juga tidak bisa dihapus dari catatan sejarah.
Portugal Mengalami Nasib Serupa
Setelah meninggalkan Belgia, Martinez menerima tantangan baru bersama Portugal pada 2023.
Ia sempat membawa Portugal menjuarai UEFA Nations League 2024-2025. Akan tetapi, keberhasilan tersebut tidak berlanjut di Piala Dunia 2026.
Portugal harus mengakhiri perjalanan di babak 16 besar, sekaligus mengakhiri kesempatan terakhir Cristiano Ronaldo untuk mengejar gelar Piala Dunia sepanjang kariernya.
Hasil itu membuat Martinez memilih mundur dari jabatannya.
Usia Martinez yang baru 52 tahun membuat peluangnya kembali melatih tim nasional masih terbuka lebar.
Beberapa negara dinilai memiliki skuad muda yang menjanjikan. Maroko, misalnya, kembali tampil impresif setelah mencapai semifinal Piala Dunia 2022 dan kini lolos hingga perempat final. Mereka masih memiliki pemain seperti Achraf Hakimi, Brahim Diaz, dan Ayyoub Bouaddi.
Norwegia juga mulai memperlihatkan perkembangan dengan Erling Haaland sebagai andalan serta hadirnya Antonio Nusa dan Andreas Schjelderup.
Selain itu, Ekuador memiliki Moises Caicedo, Willian Pacho, dan Piero Hincapie yang sama-sama masih berusia 24 tahun. Kanada mengandalkan Alphonso Davies dan Jonathan David, sedangkan Kolombia masih memiliki Luis Diaz, Richard Rios, dan Luis Suarez.
Turki pun ikut disebut karena memiliki generasi muda yang dipimpin Arda Guler dan Kenan Yildiz.
Meski begitu, semua tim tersebut lebih banyak muncul sebagai bahan perdebatan dan spekulasi mengenai kemungkinan tujuan karier Martinez berikutnya.
Namun label “perusak generasi emas” terasa terlalu sederhana jika seluruh perjalanan Roberto Martinez dinilai hanya dari hasil akhir.
Belgia memang gagal mengangkat trofi besar, tetapi semifinal Piala Dunia 2018 tetap merupakan pencapaian terbaik mereka dalam era modern.
Di sisi lain, kegagalan Portugal di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa memiliki kumpulan pemain hebat saja tidak otomatis menjamin gelar.
Dalam sepak bola turnamen, keputusan kecil, momentum, dan lawan yang dihadapi sering kali menjadi pembeda yang tidak bisa diabaikan.
Dapatkan berita dengan ulasan mendalam, serta kabar terbaru hanya di Gilabola.com.
- TAGS
- Roberto Martinez
- Timnas Belgia
- Timnas Portugal