RI Masuk WAICO, Bidik Ekonomi Digital 300 Miliar Dolar AS Lewat Pengembangan AI
Bagikan:
JAKARTA - Ekonomi digital Indonesia berpotensi mengalami percepatan pertumbuhan seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di berbagai sektor strategis.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto mengatakan implementasi AI memiliki cakupan yang luas dan dapat memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor, mulai dari pertanian modern, pengembangan energi terbarukan, transisi energi, hingga peningkatan layanan kesehatan berbasis digital.
Meski demikian, ia menambahkan optimalisasi teknologi tersebut memerlukan dukungan infrastruktur digital yang memadai, terutama pembangunan pusat data (data center), yang dinilai menjadi fondasi utama pengembangan ekosistem AI di Indonesia.
“Outcome kecerdasan artifisial atau AI, bagi saya mencakup banyak bidang karena cakupan AI sangatlah luas. Bagi negara-negara seperti Indonesia, tentu saja penerapan AI dapat dimanfaatkan pada sektor pertanian (pertanian modern), transisi energi, dan kemudian untuk energi terbarukan, serta untuk mengembangkan banyak sektor digital termasuk di sektor kesehatan. Saya rasa saat ini ekonomi digital Indonesia bernilai 13 miliar dolar AS, dan kita sedang menuju 300 miliar dolar AS, di mana jumlah tersebut akan berlipat ganda dengan adanya AI,” ucapnya dalam keterangannya, Jumat, 17 Juli.
Upaya mempercepat pengembangan ekosistem AI nasional juga diperkuat melalui langkah Indonesia bergabung sebagai salah satu anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO).
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan dokumen pendirian WAICO dalam rangkaian Konferensi WAIC 2026 yang berlangsung di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Keikutsertaan Indonesia dalam organisasi tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan serta tata kelola AI.
Penandatanganan dokumen pendirian WAICO dilakukan oleh Menko Airlangga bersama perwakilan dari sekitar 30 negara lainnya.
Selain Indonesia, negara-negara yang turut menandatangani perjanjian pendirian WAICO antara lain Aljazair, Belarus, Brasil, Kamboja, Kamerun, Kongo, Kuba, Etiopia, Kazakstan, Kenya, Kirgistan, Laos, Lesotho, Malaysia, Mozambik, Myanmar, Nikaragua, Oman, Pakistan, Rusia, Senegal, Serbia, Afrika Selatan, Tajikistan, Uzbekistan, Venezuela, Zambia, dan RRT.
WAICO merupakan organisasi internasional antar pemerintah yang bersifat independen dengan fokus pada kerja sama kecerdasan buatan di ranah sipil (civilian domain) secara inklusif dan non-diskriminatif.
Airlangga menilai posisi Indonesia sebagai founding member memiliki nilai strategis untuk ikut menentukan arah pengembangan tata kelola AI global agar tetap mengedepankan pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centric approach) dan menghadirkan manfaat yang setara bagi seluruh negara, khususnya bagi negara berkembang dalam memajukan perekonomiannya.
BACA JUGA:
Menurutnya, keterlibatan Indonesia sejak tahap awal pendirian WAICO juga membuka ruang bagi negara ini untuk berkontribusi dalam penyusunan kebijakan dan struktur kelembagaan organisasi.
Airlangga menyampaikan pemerintah juga memastikan seluruh bentuk kerja sama serta penyelarasan teknis melalui WAICO akan tetap mengikuti regulasi nasional, prinsip etika AI, perlindungan kedaulatan data, serta berbagai komitmen ekonomi strategis Indonesia.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah akan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk mengoptimalkan peran WAICO dalam mendukung percepatan transformasi digital nasional.
Adapun, fokus utama mencakup peningkatan kesiapan infrastruktur data center dalam negeri, pengembangan kompetensi sumber daya manusia di bidang AI, serta perluasan kolaborasi internasional yang dapat memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+