asiawebawards.com
  • 2026-07-12 07:44:00 +0000 UTC

    Jul 12, 2026

    Periksa Mata Rutin jadi Kunci Lansia Tetap Mandiri dan Produktif

    Bagikan:

    JAKARTA – Penurunan fungsi penglihatan kerap dianggap sebagai konsekuensi logis dari proses penuaan.

    Namun, menjaga kesehatan indra penglihatan di usia senja sebenarnya menjadi kunci utama agar para lansia tetap bisa beraktivitas secara mandiri dan produktif.

    Berangkat dari kesadaran tersebut, Holywings Peduli menggelar aksi sosial berupa pemeriksaan kesehatan mata gratis, seminar edukasi, hingga pembagian kacamata baca secara cuma-cuma untuk warga lanjut usia (lansia) di Cecilia Bar, Petogogan, Jakarta Selatan, Sabtu, 11 Juli.

    Mengusung tajuk "Mata Sehat, Lansia Bahagia", aksi tersebut dirancang khusus untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi kelompok usia rentan.

    Komisioner Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata komitmen korporasi dalam mendongkrak kualitas hidup para lansia.

    "Kami berharap kegiatan ini dapat membantu para lansia memperoleh akses pemeriksaan mata yang baik sekaligus mendapatkan kacamata yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Penglihatan yang baik akan membuat mereka tetap mandiri, produktif, dan menikmati aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman," tutur Andrew.

    Dalam pelaksanaannya, peserta melewati serangkaian prosedur pemeriksaan ketajaman visual, pemeriksaan refraksi, hingga sesi konsultasi bersama Refraksionis Optisien (RO) dan Optometrist dari Optik 99K.

    Langkah ini krusial guna mengidentifikasi keluhan gangguan mata yang jamak menyerang orang tua, mulai dari katarak, glaukoma, presbiopi (mata tua), hingga degenerasi makula.

    Sementara dalam seminar edukasi, Zakaria Efendo, sebagai pemateri memaparkan panduan berkala mengenai durasi pemeriksaan mata yang ideal bagi kelompok usia di atas kepala empat.

    "Secara umum, usia 40–64 tahun pemeriksaan mata lengkap setiap 1–2 tahun, meski tidak ada keluhan. Usia 65 tahun ke atas, sebaiknya setiap setahun sekali. Bila memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, riwayat glaukoma dalam keluarga, rabun tinggi, atau pernah menjalani operasi mata, pemeriksaan bisa dilakukan lebih sering sesuai anjuran dokter mata, misalnya setiap 3–12 bulan," ujar Zakaria.

    Da menambahkan, pola makan yang seimbang memegang peranan yang jauh lebih vital ketimbang hanya bergantung pada satu jenis asupan tertentu.

    Para lansia disarankan mengonsumsi sayuran berdaun hijau yang kaya akan kandungan lutein dan zeaxanthin, sayuran berwarna oranye penyuplai beta-karoten, hingga ikan berlemak yang kaya kandungan omega-3.

    Langkah ini juga harus diimbangi dengan membatasi makanan olahan (ultra-proses) serta menghentikan kebiasaan merokok.

    Sesi seminar juga dimanfaatkan untuk mematahkan berbagai asumsi keliru yang kadung beredar luas di tengah masyarakat mengenai kesehatan mata lansia.

    Salah satunya adalah mitos yang melarang orang tua sering membaca buku agar minus atau plus pada mata tidak melonjak.

    Zakaria dengan tegas menyanggah anggapan tersebut.

    Menurutnya, membaca sama sekali bukan pemicu langsung dari progresi presbiopia maupun gangguan rabun.

    “Tidak sepenuhnya benar. Membaca tidak menyebabkan presbiopia maupun rabun bertambah secara langsung. Yang mungkin terjadi adalah mata terasa lelah bila pencahayaan kurang, posisi membaca tidak nyaman, atau ukuran kacamata sudah tidak sesuai. Membaca tetap merupakan aktivitas yang baik untuk menjaga fungsi kognitif dan kualitas hidup lansia," tegas Zakaria.

    Dia mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh klaim produk herbal yang disebut-sebut bisa mengatasi atau mengobati katarak.

    BACA JUGA:


    Hingga detik ini, katarak yang sudah mengaburkan pandangan dan mengganggu mobilitas harian hanya bisa disembuhkan secara efektif lewat tindakan operasi medis.

    Begitu pula dengan asumsi bahwa mata tanpa keluhan berarti sepenuhnya sehat.

    Penyakit kronis seperti glaukoma justru kerap dijuluki sebagai ‘pencuri penglihatan’ lantaran merusak saraf mata secara perlahan tanpa tanda kedaruratan di fase awal.

    Add VOI as a Preferred Source

    Follow VOI news updates across Google.

    +

    2026-07-12 07:44:00 +0000 UTC