Papua Selatan komitmen percepat eliminasi kusta - ANTARA News Papua Tengah
Jayapura (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan berkomitmen berkomitmen untuk mempercepat eliminasi kusta dengan menandatangani komitmen bersama pada konferensi nasional kusta.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Papua Selatan Benericta Herlina Rahangiar dalam siaran pers yang diterima Antara di Jayapura, Sabtu, mengatakan tantangan penanggulangan kusta di daerah ini masih memerlukan perhatian serius di mana berdasarkan pada 2025 prevalence rata-rata kusta mencapai 8,13 per 10.000 ribu penduduk.
"Angka tersebut meningkat 1,76 poin dibandingkan tahun sebelumnya, sementara target nasional berada di bawah satu per 10.000 penduduk," katanya.
Menurut Herlina, pihaknya mencatat pada 2025 sebanyak 221 kasus baru kusta dengan 180 kasus terjadi pada orang dewasa dan sisanya terhadap anak-anak.
"Adapun case detection rate (CDR) mencapai 40,21 per 10.000 penduduk, jauh di atas target nasional sebesar lima kasus per 10 ribu penduduk," ujarnya.
Dia menjelaskan pihaknya memastikan setiap pasien langsung mendapat pengobatan sesuai standar pelayanan namun, yang masih terkendala di daerah ini adalah pendistribusian obat-obatan dari pemerintah pusat, meski demikian pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas.
"Kami juga mengajak seluruh masyarakat Papua Selatan untuk memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya deteksi dini berbagai penyakit termasuk kusta," katanya lagi.
Dia menambahkan melalui pemeriksaan kesehatan gratis secara rutin berbagai penyakit dapat dideteksi sejak dini sehingga penanganannya menjadi lebih cepat dan peluang untuk sembuh semakin tinggi.
Komitmen yang ditandatangani Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo bersama gubernur se-Indonesia di Jakarta pada Jumat (10/7) diharapkan menjadi landasan penguatan kebijakan daerah dalam mendukung target nasional eliminasi kusta pada 2030.
Pewarta: Ardiles Leloltery
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.