Jakarta -
Unggahan video seorang pemilik restoran tengah menarik perhatian banyak orang. Karena restorannya hampir bangkrut, pria ini mengaku sedang menjalankan misi penyelamatan restoran.
Di tengah kondisi ekonomi dunia yang buruk sekaligus persaingan ketat, banyak bisnis kuliner akhirnya tak mampu bertahan. Beberapa sudah bangkrut, tetapi banyak juga yang masih berusaha untuk menyelamatkannya.
Berbagai cara dilakukan oleh pemilik bisnis untuk bisa bertahan, mulai dari melakukan trik marketing tertentu hingga promosi besar-besaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baru-baru ini seorang pemilik bisnis kuliner yang sedang kesulitan, menjalani sebuah misi untuk menyelamatkan usaha kulinernya.
Lewat sebuah unggahan video di Instagram @tash_tish_tosh, seorang pria yang mengaku saudara dari pemilik restoran Tash Tish Tosh menyatakan sedang menjalankan misi untuk menyelamatkan bisnis makanan dan minuman tersebut.
Restoran ini dikenal menawarkan berbagai hidangan halal dengan menu sup tulang merah dan nasi goreng sebagai menu andalannya. Namun, restoran ini juga dikenal punya banyak menu lain, seperti burger, pizza, buffalo wings, nasi minyak, aneka pasta, hingga steak, lapor Asia One (25/9).
Saudara dari pemilik restoran ini meminta bantuan banyak orang untuk selamatkan bisnisnya. Foto: Instagram @tash_tish_tosh
Menurut pria tersebut, salah satu bisnis kulinernya yang tersisa hanyalah restoran Tash Tish Tosh yang berlokasi di East coast Park, Marine Cove, Singapura.Jika sisa satu restoran ini tidak berhasil ia selamatkan, mungkin mereka akan menutup restoran terakhirnya.
Menurut saudara pemilik restoran ini, masalah utama bukan terletak pada menu makanan yang ditawarkan atau harganya. Mengingat harganya sepadan dengan porsi besar yang disajikan. Jika dilihat dari website resmi tashtishtosh.com, harga menu-menunya dibanderol mulai dari 6,9 SGD (Rp97.066) sampai 42 SGD (Rp590.886).
Sebaliknya, ia bertanya-tanya apakah masalah mungkin terletak pada lokasi restoran tersebut, mengingat lokasinya yang lebih dekat ke pantai. Menurutnya, kebanyakan orang datang ke area tersebut untuk jogging, bersepeda, dan piknik. Sebagian besar orang pun hanya melewati restoran mereka tanpa mampir.
Kemudian pria ini meminta orang-orang untuk berbagi pendapat tentang tempat usaha tersebut. Apakah mereka harus pindah lokasi atau apakah harus mempertimbangkan mengubah menu agar lebih sesuai dengan jenis pelanggan yang ada di sana.
Video tersebut sudah ditonton lebih dari 101.000 kali di Instagram dengan hampir 200 komentar. Mendengar kisah ini, sebagian besar netizen sangat antusias berpartisipasi, berbagi ide mereka untuk melakukan perbaikan terhadap bisnis kuliner pria tersebut.
Salah satunya menyarankan agar restoran ini menyediakan menu piknik untuk dibawa pulang yang dapat lebih mudah dibeli oleh pengunjung taman dan dibawa ke pantai terdekat untuk dinikmati.
Ada juga yang memberi ide agar menjual menu piknik berupa piring berisi makanan ringan, seperti kentang goreng, sandwich dan chicken wings.
Saat ini mereka sedang berusaha untuk mempertahankan bisnis satu-satunya. Foto: Instagram @tash_tish_tosh
Namun, ada juga netizen yang tidak setuju dengan pendapat pria tersebut yang mengungkap jika harga bukanlah masalah. Menurut netizen ini, harga justru jadi masalah besar karena ketika makan di sana ia merasa seperti membakar dompet.
"Saya biasanya pergi ke sana, tetapi saya tidak akan datang lagi bersama anak-anak saya terutama karena tagihan akhirnya sangat mahal," ujar netizen lain.
Dalam sebuah wawancara dengan Vulcan Post pada awal Januari lalu, pendiri Tash Tish Tosh, Wahid Allapitchay dan istrinya, Nazihah Ibrahim menceritakan perjuangan mengoperasikan bisnisnya agar bisa bertahan.
Bisnis ini diketahui pertama kali dirikan tahun 2013, dengan menempati sebuah kios kecil di sudut kedai kopi jalan Onan. Lalu mereka pindah dan berkembang ke berbagai lokasi. Membuka cabang, seperti di Katong, SImpang, Bedok, hingga Kampung Glam.
Meskipun bisnisnya sempat berjalan dengan baik, Wahid mengungkap kalau kebiasaan makan warga Singapura telah berubah sejak pandemi Covid-19. Akhirnya jumlah pengunjung juga berkurang.
Mereka juga harus berjuang dengan biaya operasional yang semakin tinggi dan tetap harus membayar lebih banyak gaji dan mempertahankan persediaan lebih banyak. Akhirnya penurunan penjualan dan pendapatan ikut menurun.
Saat ini prioritas utama mereka adalah bertahan. Mereka berusaha agar bisnisnya tetap relevan dan sambil mencari tahu formula apa yang sekiranya akan membantu mempertahankan bisnis kulinernya.
(aqr/adr)