asiawebawards.com
  • 2026-07-16 09:45:00 +0000 UTC

    Jul 16, 2026

    Mimpi Buruk Amerika Buatan China, Nilainya Bisa Tembus Rp 1.300 T

    Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal China, DeepSeek, tengah bersiap menggelar putaran pendanaan baru dengan valuasi mencapai sekitar 500 miliar yuan atau lebih dari Rp1.300 triliun. Langkah ini dilakukan menjelang rencana penawaran umum perdana saham (IPO) di bursa saham China.

    Mengutip laporan Reuters, rencana tersebut muncul hanya beberapa pekan setelah startup yang berbasis di Hangzhou itu meraih pendanaan senilai sekitar US$7,4 miliar pada Juni lalu dengan valuasi pasca-investasi sekitar 450 miliar yuan.

    Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan DeepSeek menargetkan penghimpunan dana baru hingga 50 miliar yuan. Perusahaan juga mulai membahas rencana pencatatan saham di STAR Market, bursa teknologi Shanghai yang kerap dijuluki sebagai Nasdaq-nya China.

    Bahkan, menurut salah satu sumber, DeepSeek telah menetapkan target internal untuk menyelesaikan pengajuan dokumen IPO pada tahun ini.

    Meski demikian, seluruh sumber menegaskan proses penggalangan dana dan IPO masih berada pada tahap awal sehingga nilai pendanaan maupun jadwalnya masih bisa berubah. DeepSeek sendiri belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

    Sebelumnya, Bloomberg News melaporkan DeepSeek tengah mempersiapkan pengajuan IPO, sementara Financial Times menyebut perusahaan itu mempertimbangkan putaran pendanaan baru dengan valuasi sedikitnya 480 miliar yuan.

    Biaya AI Makin Mahal

    DeepSeek bisa dibilang sebagai 'mimpi buruk' bagi raksasa teknologi Amerika Serikat (AS). Perusahaan sempat bikin heboh dunia pada 2025 setelah meluncurkan model AI yang diklaim mampu menyaingi model AI buatan AS dengan biaya pelatihan dan operasional yang jauh lebih rendah. Saham-saham raksasa AI asal AS sempat rontok berjamaah saat model R1 DeepSeek diperkenalkan ke publik. 

    Tak lama setelah merampungkan pendanaan pada Juni lalu, perusahaan mengumumkan rencana menggandakan jumlah karyawan di berbagai divisi, termasuk pusat data dan pengembangan AI agent, yakni sistem AI yang mampu menyelesaikan berbagai tugas hanya dengan sedikit instruksi dari pengguna.

    Ekspansi tersebut diperkirakan membutuhkan belanja modal yang sangat besar. Reuters sebelumnya juga melaporkan DeepSeek tengah mengembangkan chip AI khusus untuk proses inferensi serta diam-diam meningkatkan perekrutan insinyur perancang chip guna mendukung proyek tersebut.

    Selama bertahun-tahun DeepSeek dikenal sebagai salah satu startup AI China yang menolak pendanaan dari investor luar. Pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, sebelumnya membiayai perusahaan menggunakan dana dari hedge fund kuantitatif miliknya, High-Flyer.

    Namun, lonjakan biaya untuk tetap bersaing di garis depan industri AI membuat strategi tersebut berubah.

    Dalam setahun terakhir, DeepSeek juga menghadapi persaingan ketat dari raksasa teknologi China seperti ByteDance dan Alibaba, serta startup AI yang didukung pendanaan besar seperti Z.ai, Moonshot, dan MiniMax.

    Pada putaran pendanaan Juni lalu, Liang Wenfeng secara pribadi menyuntikkan dana sebesar 20 miliar yuan. Sementara itu, Tencent Holdings menggelontorkan 10 miliar yuan dan produsen baterai CATL menanamkan 5 miliar yuan, sehingga menjadi pemegang saham eksternal terbesar DeepSeek.

    Investor lainnya meliputi dana AI nasional China, perusahaan game NetEase, raksasa e-commerce JD.com, serta perusahaan investasi IDG Capital, Loyal Valley Capital, Monolith Management, dan Shixiang Capital.

    Keterlibatan dana AI yang didukung pemerintah China menunjukkan posisi strategis DeepSeek bagi ambisi Beijing untuk membangun perusahaan AI nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi dari luar negeri.

    (fab/fab)

    Add

    as a preferred
    source on Google

    [Gambas:Video CNBC]

    2026-07-16 09:45:00 +0000 UTC