Menu sehat inovasi kampus di Bali jadi opsi logistik saat bencana - ANTARA News Bali
Denpasar (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali menjadikan menu sehat hasil inovasi perguruan tinggi sebagai opsi bantuan logistik saat terjadi bencana.
“Itu nanti bisa menjadi salah satu produk, yang nanti bisa menjadi pilihan kami di BPBD Bali untuk penyediaan logistik pada saat terjadi bencana,” ucap Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bali Ida Bagus Gede Widnyana di Denpasar, Kamis.
Menu sehat saat bencana tersebut lahir dari kajian Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar yang dihitung berdasarkan kebutuhan gizi tiap kelompok usia. BPBD Bali mendorong menu sehat tersebut segera diluncurkan menjadi produk yang diperjualbelikan dan dipatenkan sehingga bisa diproduksi jumlah besar.
“Kami sangat mengapresiasi inovasi penelitian ini karena dapat membantu meningkatkan layanan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya pangan, saat bencana terjadi, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas gizinya. Jadi harapannya bisa terus berkembang terkait kebutuhan makanan bergizi yang bisa mendukung standar kesehatan,” ujar Widnyana.
Kehadiran menu sehat saat bencana juga didukung oleh Analis SDM Aparatur Ahli Muda LLDikti Wilayah VIII Bali–NTB Pande Putu Suryadinata, dimana menurutnya inovasi tersebut dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi lain dalam mengintegrasikan keilmuan dengan upaya penanggulangan bencana.
“Menu sehat untuk bencana ini menjadi pengetahuan baru yang dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lainnya, ke depan, berbagai kegiatan seperti KKN Tematik dapat semakin memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pengurangan risiko bencana,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil inovasi tersebut, temuan itu diseminasi melalui kegiatan Dialog Multipihak: Pertukaran Pengetahuan dan Penguatan Implementasi Kampus Siaga Bencana Berbasis Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API).
Terdapat 35 perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam dialog tersebut dan sedang berproses menuju Kampus Siaga Bencana (KSB).
LLDikti memandang perguruan tinggi memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam membangun budaya kesiapsiagaan.
“Kolaborasi harus terus diperkuat, kampus memiliki sumber daya, pengetahuan, dan jaringan yang luas, ketika civitas akademika memahami langkah-langkah mitigasi bencana, mereka dapat menjadi penggerak yang menyebarluaskan pengetahuan tersebut kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu Dosen dan Peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar Anak Agung Nanak Antarini menjelaskan menu sehat tersebut berangkat dari kebutuhan gizi korban bencana, yang didasarkan pada pemahaman bahwa setiap kelompok usia memiliki kebutuhan gizi yang berbeda.
Karena itu menu yang disusun tidak hanya mempertimbangkan kondisi darurat bencana, tetapi juga kebutuhan spesifik anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.
“Menu gizi bencana ini bertujuan membantu masyarakat terdampak bencana mempertahankan status gizi, mencegah kekurangan gizi, serta mengurangi risiko kesakitan dan kematian, karena kebutuhan setiap kelompok usia berbeda, maka menu yang kami susun juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” ujarnya.
Ia memetakan gizi bencana bagi bayi (0-6 bulan) yang utama ASI tanpa memberikan susu formula kecuali atas indikasi medis. Bagi bayi (6-24 bulan) MPASI mengandung energi, protein, vitamin, dan mineral dengan AKG 1.000 kkal, sedangkan untuk anak balita produk seperti biskuit fortifikasi, makanan siap saji, susu UHT, dan bubur instan fortifikasi dengan AKG 1.350 kkal.
Selanjutnya bagi dewasa seperti makanan siap saji, lauk kaleng, mie instan dilengkapi protein, yang terpenting mengandung energi dan protein cukup dengan AKG 1.900-2.250 kkal bagi wanita dan 2.400-2.650 kkal bagi pria.
Kemudian bagi ibu hamil produk biskuit ibu hamil, susu ibu hamil, dan tablet tambah darah, yang terpenting mengandung energi, protein, zat besi, asal folat, kalsium dan vitamin; terakhir bagi lansia dapat diberikan bubur instan, susu tinggi kalsium, makanan lunak siap saji dan biskuit tinggi energi dengan AKG 1.800 kkal.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.