Mendukbangga: Waktu ngobrol ayah dengan anak tak bisa digantikan AI - ANTARA News Jawa Timur
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji mengatakan waktu ngobrol yang berkualitas antara ayah dengan anak tidak akan bisa digantikan oleh teknologi maupun akal imitasi (AI).
"Pemerintah tidak anti terhadap handphone maupun teknologi, tetapi teknologi seharusnya menjadi alat yang melayani manusia, bukan mengendalikan manusia, karena teknologi tidak memiliki hati dan empati sebagaimana manusia. Oleh karena itu, waktu berinteraksi dengan anak ini tidak akan bisa digantikan oleh teknologi maupun AI," katanya saat meninjau Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (Gamas) di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin.
Ia menegaskan momen ngobrol atau waktu berkualitas antara ayah dan anak dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana, seperti mengantar anak ke sekolah, yang akan menjadi kenangan penting bagi anak.
"Sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless, yakni kehilangan figur ayah dalam pengasuhan. Oleh karena itu, melalui Gamas, pemerintah mengajak para ayah meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah pada hari pertama agar anak merasakan kehadiran ayah secara psikologis," ujar dia.
Wihaji menegaskan bahwa perhatian ayah menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Kehadiran gawai menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar tidak menjadi "keluarga baru" yang dapat mengurangi kualitas pengasuhan di dalam keluarga.
"Jika orang tua tidak hadir, handphone akan menggantikan peran tersebut karena digunakan anak selama sekitar 8–10 jam setiap hari," ucap Wihaji.
Ia mengemukakan semangat Gamas sejalan dengan program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar), yaitu meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan, mengingat di Indonesia, banyak ayah yang hanya sibuk mencari nafkah, tetapi kurang mengetahui perkembangan pendidikan anak.
Mendukbangga/Kepala BKKBN mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 17 tentang Gemar dan Gamas yang terus diterapkan secara berkelanjutan di seluruh sekolah di Indonesia.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini menyambut dan mendukung SE tersebut dengan meminta instansi pemerintah memberikan fleksibilitas kerja bagi aparatur sipil negara (ASN) yang akan mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah.
Rini mengatakan pengaturan fleksibilitas kerja tersebut diharapkan memungkinkan ASN mendampingi anak tanpa mengurangi profesionalisme, produktivitas, maupun kualitas pelayanan kepada masyarakat.
"Penerapan fleksibilitas kerja ini tidak boleh mengurangi kualitas pemerintahan dan pelayanan publik. Justru sebaliknya, kita harapkan melalui kebijakan ini ASN bisa bekerja lebih fokus, adaptif terhadap perkembangan, serta lebih seimbang dalam kehidupan," katanya.
Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Menteri PANRB Nomor B/257/M.KT.02/2026 yang diterbitkan pada Jumat (10/7) dalam rangka mendukung penguatan ketahanan keluarga dan peran keluarga bagi pegawai ASN.
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.