Lindsey Graham, Sekutu Trump Meninggal Dunia
Liputan6.com, Washington, DC - Senator kawakan Amerika Serikat (AS) sekaligus salah satu sekutu utama Donald Trump, Lindsey Graham, meninggal dunia setelah jatuh sakit secara mendadak. Kantornya mengumumkan kabar duka tersebut pada Minggu (12/7/2026) dini hari waktu setempat.
Graham mengembuskan napas terakhirnya pada usia 71 tahun.
"Pada Sabtu malam, 11 Juli, Senator AS Lindsey Graham meninggal dunia setelah jatuh sakit secara mendadak," bunyi pernyataan resmi dari kantornya seperti dilaporkan The Guardian.
"Keluarga Senator Graham berterima kasih atas doa yang disampaikan dan meminta agar privasi mereka dihormati pada masa yang sangat sulit ini."
Hingga saat ini, pihak keluarga belum merilis penyebab pasti kematiannya. Namun, laporan rekaman audio pemindai polisi yang diperoleh media AS menunjukkan bahwa petugas medis darurat sempat merespons panggilan darurat terkait dugaan henti jantung di kediaman Graham di Capitol Hill pada Sabtu malam, sebelum akhirnya ia dilarikan dengan ambulans.
Kematian mendadak Graham ini dipastikan akan mengguncang Washington dan internal Partai Republik.
Sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Senat, ia telah mewakili Carolina Selatan sejak 2003 dan baru saja memenangkan pemilu primer Partai Republik pada Juni lalu untuk mencalonkan diri kembali dalam pemilu November mendatang.
Sebelum kabar duka ini tersiar, tidak ada indikasi bahwa Graham mengalami masalah kesehatan.
Pekan lalu, ia bahkan masih menjalankan tugas diplomasi aktif dengan berkunjung ke Ukraina. Pada Jumat (10/7), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sempat menulis di media sosial dan memuji komitmen Graham setelah pertemuan mereka yang berlangsung hangat di Kyiv.
"Saya berterima kasih kepada Lindsey karena telah memberikan penghormatan kepada para prajurit kami," tulis Zelenskyy.
Jejak Karier dan Dinamika Hubungan dengan Trump
Di panggung politik domestik, Graham dikenal sebagai figur berhaluan keras. Purnawirawan kolonel Cadangan Angkatan Udara AS yang pernah bertugas sebagai perwira hukum militer ini merupakan pendukung kuat Perang Irak dan sejak lama menyerukan tindakan militer terhadap Iran, termasuk menentang keras kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama.
Kendati di akhir hayatnya dikenal sebagai salah satu pembela Trump yang paling vokal, hubungan keduanya sempat diwarnai dinamika yang sengit.
Saat mencalonkan diri sebagai presiden pada 2016, Graham merupakan salah satu pengkritik Trump yang paling keras di internal partai. Ia bahkan pernah menyebut Trump brengsek dan fanatik yang mengobarkan sentimen rasial. Melalui sebuah unggahan di Twitter (sekarang X) yang kemudian banyak dikutip, Graham sempat memperingatkan, "Jika kita mencalonkan Trump, kita akan kalah telak ... dan kita memang pantas menanggung akibatnya."
Trump pun membalas serangan tersebut dengan menyebut Graham "idiot" dan "politikus tak berbobot".
Namun, setelah posisi Trump di Partai Republik semakin tak tergoyahkan, Graham berbalik menjadi sekutu penting yang menjembatani hubungan antara Trump dan Kongres. Loyalitas ini terlihat jelas pada 2018 ketika Graham tampil di garis depan membela Brett Kavanaugh, calon hakim Mahkamah Agung AS pilihan Trump yang saat itu tengah diterpa kontroversi besar.
Hubungan kedua tokoh ini sempat kembali goyah pasca-peristiwa penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 oleh pendukung Trump. Dalam pidatonya di sidang Senat malam itu, Graham sempat menyatakan menarik dukungannya dengan emosional.
"Trump dan saya telah melalui perjalanan yang luar biasa... Namun, setelah apa yang terjadi hari ini, yang bisa saya katakan hanya: jangan libatkan saya lagi. Cukup sudah," tegasnya saat itu.
Kendati demikian, keretakan tersebut tidak bertahan lama. Graham menolak memberikan suara untuk menyatakan Trump bersalah dalam persidangan pemakzulan berikutnya, dan kembali meluas mendukung Trump dalam pemilihan presiden 2024, di mana keduanya kerap terlihat bermain golf bersama.