asiawebawards.com
  • 2026-07-14 22:20:00 +0000 UTC

    Jul 14, 2026

    Kesbangpol Sleman bekali siswa baru jadi agen perubahan anti-kekerasan

    Kesbangpol Sleman bekali siswa baru jadi agen perubahan anti-kekerasan

    Rabu, 15 Juli 2026 05:20 WIB

    Image Print

    Kepala Bidang Penanganan Konflik dan Kewaspadaan Nasional Kesbangpol Sleman Bagus Jalu Anggara memberikan materi soal anti-kekerasan. ANTARA/HO-Dokumen Kesbangpol Sleman

    Sleman (ANTARA) - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman memberikan sosialisasi peran agen perubahan anti-kekerasan kepada 550 siswa baru SMK Negeri 1 Seyegan dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026.

    Kegiatan bertema "Membentuk Generasi Tangguh sebagai Agen Perubahan" tersebut bertujuan membentengi siswa dari ancaman perundungan, kejahatan jalanan, hingga radikalisme digital.

    Kepala Bidang Penanganan Konflik dan Kewaspadaan Nasional Kesbangpol Sleman Bagus Jalu Anggara di Sleman, Selasa, menegaskan bahwa siswa memiliki peran strategis dalam melakukan deteksi dini terhadap potensi gesekan sosial di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

    Dalam paparannya, Jalu memberikan peringatan tegas kepada siswa mengenai konsekuensi hukum bagi remaja yang terlibat tindak pidana. Ia merujuk pada data Pengadilan Negeri Sleman tahun 2023 yang mencatat 47 persen kasus pidana anak berkaitan dengan penyalahgunaan senjata tajam.

    Selain aspek hukum, ia mengimbau siswa untuk mewaspadai ancaman ideologi intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme, serta fenomena "True Crime Community" (TCC) yang kerap menyusup melalui media sosial dan permainan daring.

    "Menumbuhkan sikap toleransi merupakan cara paling efektif untuk menangkal pengaruh negatif tersebut," katanya.

    Senada dengan hal itu, Tenaga Pelopor Perdamaian Dinas Sosial Kabupaten Sleman Yohanes Samiaji menekankan pentingnya karakter pelajar yang berani menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun siber.

    Yohanes mengingatkan bahwa perundungan memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental dan prestasi siswa. Oleh karena itu, ia mendorong para siswa untuk lebih bijak dalam berdigital dan bersikap kritis terhadap informasi hoaks.

    "Pelajar keren adalah mereka yang bijak berdigital, berani berkarya, dan menolak solidaritas yang salah," kata Yohanes.

    Kegiatan yang diikuti siswa baru dari berbagai jurusan ini dikemas melalui diskusi interaktif dan studi kasus faktual. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan komitmen bersama para siswa untuk menjaga ketenteraman lingkungan sekolah serta menolak segala bentuk tindak kekerasan.

    Pewarta : Sutarmi
    Editor: Nur Istibsaroh
    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    2026-07-14 22:20:00 +0000 UTC