Kementerian Kebudayaan Siapkan Museum Perfilman, Arsip Film Tak Lagi Sekadar Disimpan
Bagikan:
JAKARTA – Kementerian Kebudayaan mulai menyiapkan pembentukan Museum Perfilman Indonesia yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan arsip, tetapi juga menjadi pusat edukasi, riset, dan aktivitas publik. Langkah ini ditempuh untuk menyelamatkan sekaligus menghidupkan kembali arsip film sebagai bagian dari sejarah bangsa.
Gagasan itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Pusat Pelestarian Film Indonesia Menuju Museum Perfilman yang digelar di Jakarta, Jumat (10/7).
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan film merupakan warisan budaya yang harus dijaga karena merekam perjalanan sejarah, identitas, dan perkembangan masyarakat Indonesia. Karena itu, museum perfilman dirancang sebagai living archive, yakni arsip hidup yang dapat diakses dan dimanfaatkan publik.
"Museum bukan sekadar tempat menyimpan koleksi. Museum harus menjadi pusat edukasi, literasi, riset, dan ruang aktivitas yang membuat sejarah tetap hidup," kata Fadli.
Menurutnya, museum perfilman nantinya juga akan menjadi pusat dokumentasi, katalog, naskah, referensi, serta ruang apresiasi bagi perkembangan sinema Indonesia.
BACA JUGA:
Dalam forum tersebut, Kementerian Kebudayaan mengajak sineas, akademisi, kurator, dan pengelola museum menyusun konsep pelestarian film yang lebih komprehensif. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah penerapan konsep GLAM, yaitu integrasi Gallery, Library, Archive, dan Museum dalam satu ekosistem.
Melalui konsep itu, galeri berfungsi sebagai ruang pamer dan kurasi, perpustakaan menjadi pusat literasi dan riset, arsip menangani preservasi, restorasi, serta digitalisasi film, sedangkan museum menjadi ruang interaksi publik.
Diskusi juga menyoroti tantangan pelestarian film di Indonesia. Selama ini arsip film masih sering dipandang sebagai dokumen pasif, padahal memiliki nilai sejarah, budaya, dan pendidikan yang besar.
Akademisi sinema Umi Lestari menilai pelibatan komunitas film dari berbagai daerah menjadi kunci agar museum benar-benar merepresentasikan keberagaman sinema Indonesia.
"Komunitas film dari berbagai daerah ingin identitas lokal mereka ikut terekam. Museum film harus inklusif dan mencerminkan keberagaman Indonesia," ujarnya.
FGD tersebut dihadiri sejumlah pegiat perfilman, antara lain Riri Riza, Julita Pratiwi, Lisabona Rahman, Rizka F. Akbar, Umi Lestari, dan Amalia Wirjono.
Kementerian Kebudayaan berharap pembentukan Museum Perfilman menjadi langkah awal membangun tata kelola arsip film yang lebih modern, kolaboratif, dan mudah diakses masyarakat. Dengan cara itu, film Indonesia tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sumber pengetahuan dan memori kolektif yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+