Kebakaran Hutan Hebat Landa Spanyol, Lebih dari 1.000 Warga Dievakuasi di Tengah Gelombang Panas Eropa
Kobaran api terus meluas semalaman akibat cuaca panas, angin kencang, dan vegetasi yang sangat kering setelah Eropa dilanda gelombang panas dalam beberapa pekan terakhir.
Gelombang Panas Picu Risiko Kebakaran Ekstrem
Badan Meteorologi Spanyol (AEMET) memperingatkan suhu udara akan kembali meningkat mulai Sabtu (18/7), bahkan diperkirakan mencapai 42 hingga 44 derajat Celsius di sejumlah wilayah Andalusia dan La Mancha pada pekan depan.
Selain itu, masuknya massa udara panas dan kering dari Afrika Utara diperkirakan meningkatkan risiko kebakaran hutan ekstrem di sebagian besar wilayah Spanyol.
Selain di Aragon, petugas pemadam juga berjibaku memadamkan kebakaran di sekitar Madrid dan Provinsi Guadalajara, yang telah menghanguskan sekitar 1.500 hektare lahan. Sebuah perkemahan musim panas juga dievakuasi sebagai langkah antisipasi.
Pekan lalu, salah satu kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarah Spanyol menewaskan sedikitnya 13 orang, sebagian besar warga negara asing, di Provinsi Almeria.
Eropa Dilanda Cuaca Ekstrem
Tidak hanya Spanyol, sejumlah negara Eropa juga menghadapi dampak cuaca ekstrem setelah gelombang panas berkepanjangan.
Di Prancis, kekeringan terus memburuk sejak akhir Mei meski suhu mulai menurun di beberapa wilayah. Sebuah pembangkit listrik berbahan bakar gas di selatan negara itu bahkan terancam menghentikan operasi karena suhu Laut Mediterania yang tinggi mengurangi pasokan air pendingin.
Sementara di Jerman, permukaan air Sungai Rhine yang surut mengganggu aktivitas pelayaran dan meningkatkan biaya transportasi. Meski hujan mulai turun di beberapa wilayah, kondisi sungai masih menjadi perhatian.
Badai dan Petir Tewaskan Tiga Orang
Saat gelombang panas mulai mereda, sejumlah wilayah Eropa justru diterjang badai hebat.
Dua orang dilaporkan meninggal dunia di Prancis akibat tertimpa pohon tumbang, sementara satu orang tewas di Negara Bagian Baden-Wuerttemberg, Jerman, setelah tersambar petir.
Badai supercell yang melanda wilayah sekitar Stuttgart membawa angin kencang dan hujan es berdiameter hingga lima sentimeter. Banyak pengendara terpaksa menghentikan kendaraan dan berlindung di bawah jembatan jalan tol.
Di timur laut Jerman, petugas pemadam berharap hujan dapat membantu mengendalikan kebakaran hutan di Taman Nasional Mueritz yang telah berlangsung hampir sepekan. Proses pemadaman terkendala keberadaan amunisi yang belum meledak di bekas area latihan militer.
WHO Peringatkan Ancaman Korban Jiwa Bertambah
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya memperingatkan Eropa masih berpotensi menghadapi gelombang panas baru dalam beberapa pekan mendatang.
Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P. Kluge, menyebut musim panas tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang paling mematikan.
Menurutnya, hampir 10.000 kematian berlebih (excess deaths) telah tercatat selama gelombang panas yang melanda Eropa pada akhir Juni lalu.
WHO mengingatkan pemerintah di kawasan Eropa agar tidak lagi memandang gelombang panas hanya sebagai fenomena cuaca, melainkan sebagai keadaan darurat kesehatan yang memerlukan respons lebih serius.
Sumber: Telegraphindia