Jejak Kepingan Warisan Aceh Di Simpul Peradaban Dunia - ANTARA News Aceh
Oleh Dr. Safriady S.sos, M.I.kom*
Jakarta (ANTARA) - Di dalam narasi sejarah Indonesia, Aceh sering kali lebih banyak dikenang sebagai daerah yang gigih melawan kolonialisme Belanda. Perang Aceh yang berlangsung puluhan tahun telah menempatkan daerah paling barat Nusantara ini sebagai simbol keberanian dan ketahanan. Namun, jika sejarah Aceh hanya dipahami melalui lensa peperangan, kita sesungguhnya kehilangan gambaran yang jauh lebih besar.
Aceh bukan hanya benteng perlawanan, melainkan juga salah satu pusat peradaban maritim, intelektual, diplomasi, dan filantropi yang memiliki pengaruh hingga melintasi benua.
Pada abad ke-16 hingga ke-17, ketika banyak wilayah di Nusantara masih berkembang sebagai kerajaan-kerajaan regional, Kesultanan Aceh Darussalam telah menjadi pemain penting dalam jaringan perdagangan dunia. Letaknya yang menguasai pintu masuk Selat Malaka menjadikan Aceh sebagai persimpangan antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Kapal-kapal dari Arab, Turki Utsmani, Persia, Gujarat, Tiongkok, hingga Eropa singgah di pelabuhan-pelabuhan Aceh. Dari wilayah inilah lada, kapur barus, emas, dan berbagai komoditas Nusantara mengalir ke pasar internasional.
Baca juga: Tradisi toet leumang dan jejak sejarah ulama nusantara
Keunggulan geografis tersebut tidak hanya menghasilkan kemakmuran ekonomi, tetapi juga membentuk karakter Aceh sebagai masyarakat kosmopolitan. Berbagai bangsa bertemu, berdagang, bertukar ilmu pengetahuan, dan membangun hubungan diplomatik. Dalam konteks inilah Aceh dapat dipandang sebagai salah satu "global city" awal di Asia Tenggara.
Pengaruh Aceh bahkan tercermin dalam hubungan diplomatiknya dengan Kesultanan Turki Utsmani. Pada pertengahan abad ke-16, Aceh mengirim utusan ke Istanbul untuk meminta dukungan menghadapi ekspansi Portugis di Selat Malaka. Sebagai balasan, Turki mengirim ahli artileri, persenjataan, dan dukungan teknis militer. Hubungan ini menunjukkan bahwa kerajaan di Nusantara telah aktif membangun diplomasi internasional jauh sebelum lahirnya negara Indonesia modern.
Di bidang intelektual, Aceh menjadi pusat studi Islam yang berpengaruh di Asia Tenggara. Ulama seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf as-Singkili melahirkan karya-karya yang dipelajari di berbagai wilayah Nusantara hingga Semenanjung Malaya. Mereka bukan sekadar tokoh agama, tetapi juga pemikir yang memperkaya tradisi intelektual Islam Melayu melalui tasawuf, fikih, tafsir, dan filsafat.
Dari Aceh pula berkembang penggunaan bahasa Melayu bertulisan Arab Jawi sebagai bahasa ilmu pengetahuan, perdagangan, dan diplomasi. Bahasa Melayu kemudian menjadi lingua franca kawasan Asia Tenggara dan pada akhirnya menjadi fondasi lahirnya Bahasa Indonesia modern. Dengan demikian, kontribusi Aceh bukan hanya pada penyebaran agama, tetapi juga terhadap pembentukan ruang komunikasi yang memungkinkan integrasi sosial dan ekonomi di kawasan.
Jejak Aceh juga dapat ditemukan di Pulau Penang, Malaysia. Hubungan Aceh dengan wilayah ini telah terjalin jauh sebelum Penang berkembang sebagai koloni Inggris. Ketika Perang Aceh berkecamuk pada abad ke-19, Penang menjadi tempat persinggahan para ulama, pedagang, bangsawan, dan pejuang Aceh. Dari sana dibangun jaringan perdagangan, penggalangan dukungan, hingga komunikasi politik dengan dunia luar. Hingga kini, keberadaan Masjid Aceh dan komunitas keturunan Aceh di Penang menjadi bukti hidup bahwa hubungan kedua wilayah tersebut merupakan bagian dari sejarah bersama Asia Tenggara.
Baca juga: Aceh Besar luncurkan Galeri Kebudayaan Aceh
Di belahan dunia lain, jejak Aceh bahkan mencapai Salem, Massachusetts, Amerika Serikat. Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, kapal-kapal dagang Amerika secara rutin berlayar ke Aceh untuk memperoleh lada. Bagi para saudagar Amerika, Aceh merupakan salah satu mitra dagang paling penting di Asia. Arsip pelayaran, surat-menyurat dagang, dan koleksi museum di Salem masih menyimpan catatan mengenai hubungan ekonomi tersebut. Fakta ini memperlihatkan bahwa Aceh telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan global sejak masa awal Republik Amerika Serikat.
Warisan Aceh yang paling unik mungkin justru berada di Tanah Suci. Wakaf Habib Bugak Asyi merupakan salah satu bentuk filantropi Islam Nusantara yang bertahan hingga sekarang. Wakaf yang didirikan oleh seorang saudagar Aceh pada abad ke-19 itu masih memberikan manfaat bagi jamaah haji asal Aceh setiap musim haji. Sulit menemukan contoh lain dari Asia Tenggara yang menunjukkan keberlanjutan pengelolaan wakaf lintas abad seperti ini. Wakaf Habib Bugak menjadi bukti bahwa tradisi sosial masyarakat Aceh tidak hanya membangun kekayaan ekonomi, tetapi juga meninggalkan warisan kemanusiaan yang terus hidup.
(ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)
Dalam sejarah Nusantara, Aceh juga memiliki keterkaitan dengan jaringan politik yang membentuk perkembangan kota-kota penting di Indonesia. Kesultanan Aceh menjalin hubungan erat dengan berbagai kerajaan Islam di pesisir Sumatra dan Jawa dalam menghadapi dominasi Portugis. Dalam konteks tersebut, sejumlah sumber sejarah menghubungkan tokoh Fatahillah dengan jaringan Aceh dan Pasai, meskipun asal-usulnya masih menjadi perdebatan akademik. Yang jelas, perjuangan merebut Sunda Kelapa pada 1527 menjadi tonggak lahirnya Jayakarta, cikal bakal Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika politik Aceh memiliki pengaruh yang melampaui batas wilayahnya sendiri.
Ironisnya, warisan global Aceh belum sepenuhnya menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Negara-negara lain mampu mengangkat sejarah maritimnya sebagai instrumen soft power. Tiongkok mempromosikan Jalur Sutra Maritim, Turki menghidupkan kembali memori Ottoman, sementara Portugal menjadikan sejarah pelayaran sebagai identitas nasional. Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sama melalui sejarah Aceh, tetapi narasi tersebut belum dikembangkan secara optimal.
Padahal, manuskrip Aceh yang tersimpan di Leiden, London, Paris, Istanbul, hingga Makkah merupakan aset intelektual kelas dunia. Situs-situs sejarah Aceh memiliki nilai universal yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi kebudayaan. Hubungan historis Aceh dengan Penang, Arab Saudi, Turki, hingga Amerika Serikat juga dapat menjadi jembatan kerja sama pendidikan, penelitian, pariwisata sejarah, dan pelestarian warisan budaya.
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap sejarah maritim Indo-Pasifik, Aceh memiliki peluang besar untuk kembali memainkan peran strategis. Letaknya yang berada di gerbang Selat Malaka tetap menjadikannya salah satu kawasan paling penting dalam jalur perdagangan global. Jika dahulu Aceh menghubungkan kapal-kapal layar dari Timur dan Barat, kini Aceh dapat menjadi simpul kerja sama ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan dalam konteks Indo-Pasifik modern.
Karena itu, sudah saatnya sejarah Aceh tidak lagi dipahami hanya sebagai kisah heroik peperangan. Aceh adalah kisah tentang peradaban yang menghubungkan bangsa-bangsa, melahirkan ulama besar, membangun jaringan perdagangan internasional, mengembangkan tradisi filantropi lintas negara, serta menjadi bagian penting dari dinamika politik dan budaya Nusantara. Warisan tersebut bukan hanya milik masyarakat Aceh, melainkan modal strategis Indonesia untuk membangun identitas sebagai bangsa maritim yang sejak berabad-abad lalu telah menjadi bagian dari sejarah dunia.
Menghidupkan kembali memori tentang warisan global Aceh bukan sekadar mengenang masa lalu. Lebih dari itu, ia merupakan investasi kebudayaan untuk masa depan mengingatkan bahwa Indonesia pernah berdiri di persimpangan peradaban dunia, dan Aceh adalah salah satu pintu utamanya.
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.