Indonesia Punya 'Harta Karun' yang Sering Terbuang, Nilai Tambahnya Disebut Capai 9 Kali Lipat
Jumat, 17 Juli 2026 - 23:57 WIB
VIVA – Indonesia memiliki beragam sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal meski menyimpan potensi ekonomi besar. Salah satunya berasal dari biomassa atau limbah hasil aktivitas perkebunan yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai sisa produksi.
Baca Juga
Melalui penerapan ekonomi sirkular, material tersebut dinilai dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang pengembangan industri baru.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Salah satu biomassa yang memiliki potensi besar berasal dari industri kelapa sawit. Berbagai jenis limbah, mulai dari pelepah dan batang kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang dan serat sawit, hingga limbah cair pabrik sawit atau palm oil mill effluent (POME), dinilai masih memiliki nilai ekonomi apabila dimanfaatkan secara optimal.
Baca Juga
Hal tersebut dijelaskan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Hariyadi. Ia mengatakan, penerapan praktik ekonomi sirkular perlu diperkuat agar mampu menjawab berbagai tantangan di industri kelapa sawit nasional, mulai dari aspek ekonomi, lingkungan, hingga sosial.
Menurutnya, salah satu cara untuk menerapkan ekonomi sirkular adalah dengan mengoptimalkan biomassa sawit seperti pelepah dan batang kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang dan serat sawit, hingga limbah cair pabrik sawit atau palm oil mill effluent (POME).
Baca Juga
Ia menyebut penerapan ekonomi sirkular pada biomassa sawit dapat memberikan nilai tambah hingga 8-9 kali lipat. Dengan luas perkebunan sawit mencapai 16,83 juta hektare, Indonesia memiliki potensi produksi biomassa sawit sebesar 261,7 juta ton bahan kering per tahun.
Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen biomassa sawit terbesar di dunia. “Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat spektakuler. Pada saat ini tercatat luas perkebunan sawit mencapai 16,83 juta hektare. Oleh karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari keterangannya pada Jumat, 17 Juli 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menjelaskan, biomassa sawit memiliki berbagai potensi pemanfaatan, antara lain sebagai bahan baku kompos dan pupuk organik, bahan bakar pembangkit listrik biomassa, hingga bahan campuran semen dan konstruksi.
Dengan potensi produksi mencapai 261,7 juta ton per tahun, biomassa sawit juga dinilai dapat menjadi salah satu penopang pengembangan energi terbarukan nasional. Pemanfaatannya tidak hanya mendukung ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan industri hilir.
Halaman Selanjutnya
Menurut Prof. Hariyadi, nilai tambah ekonomi dari pemanfaatan biomassa sawit mencakup pengembangan industri hilir di sekitar sentra produksi, penciptaan industri bahan bangunan berbasis serat alam, penyediaan sumber energi terbarukan yang dapat dijual ke jaringan listrik maupun sektor industri, hingga pengurangan emisi metana dan peluang memperoleh kredit karbon.