asiawebawards.com
  • 2026-07-12 08:00:00 +0000 UTC

    Jul 12, 2026

    Ilusi Otonomi Rakyat Tibet

    Minggu, 12 Juli 2026 - 15:00 WIB

    Oleh :

    Jakarta, VIVA – Ada kebenaran menyakitkan yang harus dihadapi oleh rakyat Tibet. Mereka yang masih percaya bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) suatu hari nanti akan memberikan otonomi sejati kepada Tibet sedang berpegang pada fatamorgana.

    Baca Juga

    Rekam jejak PKT di Tibet bukanlah kompromi, dialog, atau penghormatan terhadap identitas budaya. Melainkan kontrol, asimilasi, dan penindasan. Membayangkan bahwa sistem yang sama ini tiba-tiba akan melunak dan membiarkan rakyat Tibet hidup bebas di bawah kekuasaannya adalah sebuah khayalan belaka.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Kehidupan di bawah pemerintahan PKC di Tibet saat ini ditandai dengan pengawasan. Kamera ditempatkan di setiap sudut jalan, memantau biara, desa, dan bahkan rumah-rumah pribadi.

    Baca Juga

    Erosi budaya semakin cepat. Bahasa Tibet terpinggirkan di sekolah-sekolah, praktik keagamaan dibatasi, dan tradisi diencerkan di bawah panji "modernisasi." Represi politik tetap merajalela. Setiap ekspresi perbedaan pendapat, baik itu puisi, doa, atau protes, dengan cepat dibungkam.

    Ketidaksetaraan ekonomi terus meningkat. Proyek-proyek pembangunan lebih menguntungkan para pemukim Han dan perusahaan negara daripada warga Tibet setempat, sehingga banyak yang terpinggirkan di tanah mereka sendiri.

    Baca Juga

    Jika otonomi benar-benar mungkin, warga Tibet yang hidup di bawah sistem ini pasti sudah melihat tanda-tandanya. Sebaliknya, mereka melihat kebalikannya. Mereka menghadapi integrasi yang lebih dalam ke dalam negara Tiongkok, pembatasan yang lebih ketat, dan ruang yang semakin menyempit untuk identitas Tibet.

    Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menunjukkan, dari dekade ke dekade, bahwa mereka tidak akan mengubah pendekatan fundamentalnya. Ideologinya berakar pada kontrol, bukan kompromi. Otonomi dalam kerangka kerja seperti itu bukanlah otonomi sama sekali. Itu adalah belenggu yang disamarkan sebagai kebebasan.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Kemerdekaan penuh adalah satu-satunya jalan yang menjamin penentuan nasib sendiri. Hal ini memungkinkan rakyat Tibet untuk menentukan masa depan mereka sendiri, alih-alih didikte oleh Beijing. Kemerdekaan penuh melindungi bahasa, agama, dan tradisi mereka.

     Kemerdekaan penuh menjamin kebebasan politik, termasuk hak untuk berbicara, menulis, dan berorganisasi tanpa takut dipenjara. Kemerdekaan penuh juga memastikan bahwa sumber daya Tibet digunakan untuk kepentingan rakyat Tibet, bukan dieksploitasi untuk kepentingan negara.

    Halaman Selanjutnya

    Kepada mereka yang percaya bahwa otonomi itu mungkin, cobalah hidup di Tibet dalam situasi saat ini. Berjalanlah di jalanan di mana setiap gerak-gerik diawasi, berbicaralah dalam bahasa Tibet di tempat bahasa itu tidak disukai, dan berdoalah di biara-biara di mana para biksu diinterogasi. Itu bukanlah otonomi. Itu adalah pendudukan.

    Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

    2026-07-12 08:00:00 +0000 UTC