asiawebawards.com
  • 2026-07-13 09:35:50 +0000 UTC

    Jul 13, 2026

    DIY jadi tuan rumah konferensi kakao internasional akhir Juli mendatang

    DIY jadi tuan rumah konferensi kakao internasional akhir Juli mendatang

    Senin, 13 Juli 2026 16:35 WIB

    Image Print

    Arsip - Pelaku UMKM menunjukkan cokelat produksinya saat acara Festival Cokelat 4.0 di kawasan Embung Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, D.I Yogyakarta, Jumat (10/7/2026). Festival yang menampilkan berbagai produk olahan dari cokelat tersebut, menjadi salah satu media promosi kawasan Nglanggeran yang merupakan salah satu daerah penghasil kakao di D.I Yogyakarta. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/nz

    Yogyakarta (ANTARA) - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menjadi tuan rumah Konferensi Kakao Internasional Indonesia ke-9 (IICC) pada akhir Juli 2026 yang dihadiri oleh perwakilan dari sekitar 20 negara.

    Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Eko Nugroho di Yogyakarta, Senin, mengatakan kakao asal Kabupaten Gunungkidul memiliki potensi besar sebagai salah satu produk unggulan daerah dan akan semakin dipromosikan melalui Konferensi Kakao Internasional Indonesia tersebut.

    "Tahun ini ada kegiatan dari Asosiasi Kakao Indonesia atau ASKINDO di akhir Juli nanti akan digelar seminar tingkat internasional yang diikuti perwakilan dari sekitar 20 negara," katanya.

    Menurut Aris, penyelenggaraan seminar tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi kakao DIY, khususnya Gunungkidul, kepada pelaku industri kakao dunia.

    Ia menjelaskan seminar tersebut merupakan penyelenggaraan yang kesembilan di Indonesia dengan delapan edisi sebelumnya berlangsung di Bali, sedangkan tahun ini untuk pertama kalinya dilaksanakan di DIY.

    "Alhamdulillah, tahun ini dipercaya diselenggarakan di Yogyakarta," ujarnya.

    Aris mengatakan Gunungkidul memiliki potensi sebagai daerah penghasil kakao terbaik di DIY. Selain memiliki areal perkebunan yang luas, lanjutnya, kelompok tani juga mulai mengembangkan hilirisasi dengan memproduksi berbagai olahan cokelat bernilai tambah.

    "Mereka mulai melirik Yogyakarta, harapannya ini menjadi barometer bahwa tingkat internasional pun datang ke Yogyakarta untuk melihat potensi kakao yang ada di sini," katanya.

    Untuk memperluas pemasaran, DPKP DIY bersama para pelaku usaha terus mendorong promosi produk olahan kakao melalui berbagai kegiatan, salah satunya Festival Cokelat 4.0 yang digelar di Gunungkidul.

    "Misalnya melalui Festival Cokelat 4.0 kemarin," ujarnya.

    Selain promosi melalui kegiatan, strategi pemasaran juga dilakukan dengan menitipkan produk olahan kakao di sejumlah pusat oleh-oleh khas Yogyakarta.

    "Bahkan beberapa produk sudah masuk di toko oleh-oleh Bandara Yogyakarta International Airport," katanya.

    Menurut dia, produk olahan kakao juga dipasarkan di toko oleh-oleh yang berada di sejumlah rest area dan kawasan strategis, seperti kawasan Bunder, Gunungkidul, sehingga wisatawan lebih mudah memperoleh produk tanpa harus datang langsung ke sentra produksi di Nglanggeran.

    "Harapan kami, ketika wisatawan datang ke Gunungkidul, mereka tidak harus naik ke Nglanggeran untuk membeli cokelat karena di jalur utama juga sudah tersedia," ujarnya.

    Aris menambahkan salah satu produk yang banyak diminati konsumen adalah cokelat dark chocolate dengan kandungan kakao 70 persen karena memiliki cita rasa yang lebih pahit dan kadar gula yang lebih rendah.

    "Dark chocolate 70 persen menjadi pilihan bagi konsumen yang tidak ingin mengonsumsi terlalu banyak gula," katanya.

    Pewarta : Agung Dwi Prakoso
    Editor: Hery Sidik
    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    2026-07-13 09:35:50 +0000 UTC