asiawebawards.com
  • 2026-07-28 23:00:00 +0000 UTC

    Jul 28, 2026

    Diet Tradisional Jepang Dikaitkan dengan Depresi, Apa Kata Penelitian?

    Jakarta -

    Diet atau pola makan tradisional Jepang, washoku, terkenal menyehatkan. Tak hanya itu, penelitian mengungkap efeknya untuk depresi.

    Washoku secara harfiah berarti 'makanan Jepang'. Namun istilah ini tidak sesederhana itu. Washoku juga mencakup filosofi, cara penyajian, pemilihan bahan, dan hubungan makanan dengan budaya serta musim.

    Dikutip dari berbagai sumber, washoku sering mengikuti konsep ichiju-sansai, yaitu satu sup, tiga lauk, dan nasi sebagai makanan utama. Konsep ini menekankan keseimbangan karbohidrat, protein, sayuran, serta rasa.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Menariknya lagi, washoku mengutamakan pemakaian bahan segar dan sesuai musim. Misal, ikan musim tertentu, sayuran musiman, atau hasil laut yang sedang melimpah.

    Teknik memasaknya juga tak sembarangan. Umumnya menggunakan bumbu, seperti dashi (kaldu Jepang), kecap asin, miso, dan mirin yang bertujuan memperkuat rasa, bukan mengubah karakter bahan.

    Tak hanya spesial dari sisi bahan dan bumbu, washoku juga memiliki manfaat sehat. Dikutip dari The Japan Times (25/6/2025), dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Psychiatry and Clinical Neurosciences, peneliti menemukan manfaat konsumsi washoku.

    Mereka melakukan survei terhadap 12.500 pekerja di 5 perusahaan besar di Jepang antara tahun 2018 dan 2021. Sekitar 88% responden adalah laki-laki, dan usia rata-rata mereka adalah 42,5 tahun.

    Dari total tersebut, 30,9% mengatakan mereka mengalami depresi dan menderita gejala seperti merasa putus asa atau kehilangan semangat.

    Para peneliti kemudian menanyakan para partisipan, seberapa sering mereka mengonsumsi makanan dan minuman tertentu selama minggu sebelumnya.

    Peneliti membuat skala 0 hingga 9 yang menunjukkan seberapa dekat partisipan mengikuti diet tradisional Jepang, yang meliputi nasi putih, ikan, sup miso, produk kedelai, sayuran matang, makanan asin, jamur, rumput laut, dan teh hijau.

    Peneliti juga membuat skala diet Jepang yang dimodifikasi dari 0 hingga 11, yang mencakup makanan yang telah terbukti berpotensi bermanfaat bagi kesehatan mental, seperti buah-buahan, sayuran mentah, produk susu, dan nasi yang diproses minimal.

    Skala tersebut juga memberikan poin tambahan kepada mereka yang mengonsumsi makanan asin kurang dari sekali seminggu.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi skor peserta pada skala diet, semakin kecil kemungkinan mereka mengalami depresi.

    Ketika para peneliti membagi pola diet peserta menjadi empat kelompok, mereka menemukan bahwa mereka yang paling banyak mengonsumsi washoku memiliki kemungkinan 17% hingga 20% lebih kecil untuk menunjukkan gejala depresi dibandingkan dengan mereka yang paling sedikit mengonsumsinya.

    Untuk diketahui, kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor selain makanan, seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, dan posisi pekerjaan.

    Hal ini juga dapat dikaitkan dengan beberapa faktor gaya hidup lainnya seperti konsumsi alkohol, merokok, olahraga, tidur, dan obesitas.

    Para peneliti mengatakan bahwa mereka secara statistik menyesuaikan data mereka untuk meminimalkan dampak faktor-faktor non-diet ini.

    Adapun alasan mengapa terdapat hubungan yang kuat antara diet tradisional Jepang dan kesehatan mental, peneliti menyoroti beberapa makanan seperti rumput laut, produk kedelai, dan sayuran yang mengandung folat. Jenis makanan ini diketahui membantu menghasilkan neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin.

    Antioksidan yang terkandung dalam sayuran berwarna-warni, teh hijau, natto, dan miso juga dapat membantu mengurangi stres oksidatif pada otak.

    Bahkan ada kemungkinan bahwa umami, rasa khas makanan Jepang, merangsang sistem saraf parasimpatik dan berkontribusi pada stabilitas mental, catat para peneliti.

    Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menetapkan hubungan sebab-akibat antara washoku dan pencegahan depresi, hasilnya "sangat menggembirakan".

    Haruka Miyake, seorang peneliti di Institut Keamanan Kesehatan Jepang yang terlibat dalam penelitian ini, mengatakan hasil positif studi ini mendukung hipotesis bahwa diet tradisional Jepang baik untuk kesehatan mental.

    "Kami berharap bahwa mempromosikan kebiasaan makan sehat yang berakar pada budaya makanan Jepang akan mengarah pada strategi kesehatan masyarakat baru untuk mendukung kesejahteraan mental," kata Miyake.

    (adr/adr)

    2026-07-28 23:00:00 +0000 UTC