asiawebawards.com
  • 2026-07-16 11:46:43 +0000 UTC

    Jul 16, 2026

    China Kembangkan Jaringan Pemburu Asteroid Berbahaya

    Jakarta -

    China mempercepat pengembangan sistem peringatan dini untuk mendeteksi asteroid yang berpotensi mengancam Bumi. Sistem ini akan menggabungkan teleskop di darat dan satelit di luar angkasa agar mampu menemukan asteroid berbahaya lebih cepat dibanding metode yang digunakan saat ini.

    Pengumuman tersebut disampaikan China National Space Administration (CNSA) bertepatan dengan International Asteroid Day pada 30 Juni lalu. Menurut Kepala Ilmuwan Asteroid Monitoring and Early Warning Research Center CNSA, Li Mingtao, masih banyak asteroid dekat Bumi (near-Earth asteroids/NEA) yang belum terdeteksi.

    "Sejauh ini belum ada asteroid yang dipastikan akan bertabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat. Namun, kekhawatiran terhadap risiko tumbukan bukanlah sesuatu yang tidak berdasar. Masih banyak asteroid dekat Bumi yang belum terdeteksi," ujar Li Mingtao seperti dikutip dari The Daily Galaxy.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Sistem yang tengah disiapkan China mengandalkan pendekatan space-ground monitoring, yakni menggabungkan pengamatan dari permukaan Bumi dan luar angkasa. Di darat, China akan membangun sejumlah teleskop optik berdiameter besar di lokasi-lokasi strategis.

    Sementara di luar angkasa, negara itu berencana menempatkan konstelasi satelit pemantau yang dapat mengamati asteroid tanpa terganggu atmosfer maupun pergantian siang dan malam. Salah satu fokus utama sistem ini adalah mendeteksi asteroid yang datang dari arah Matahari. Objek seperti ini sangat sulit diamati dari Bumi karena tertutup silau cahaya Matahari.

    Fenomena serupa pernah terjadi pada meteor Chelyabinsk di Rusia pada 2013. Benda langit tersebut baru terdeteksi setelah memasuki atmosfer dan kemudian meledak di udara, melukai lebih dari seribu orang akibat gelombang kejutnya.

    Menurut Li, hingga pertengahan 2026 para astronom telah menemukan lebih dari 40.000 asteroid dekat Bumi. Sekitar 95% asteroid berdiameter lebih dari satu kilometer, yang mampu memicu bencana global, telah berhasil dipetakan. Namun, kondisi berbeda terjadi pada asteroid berukuran sekitar 140 meter, yang masih cukup besar untuk menghancurkan wilayah seluas sebuah negara.

    "Baru sekitar 45% asteroid berukuran sekitar 140 meter yang berhasil dideteksi," kata Li.

    Karena itu, China menilai masih diperlukan sistem pemantauan yang lebih sensitif agar objek-objek tersebut dapat ditemukan jauh sebelum mendekati Bumi.

    Selain membangun jaringan pemantauan, China juga tengah menyiapkan misi pembelokan asteroid menggunakan metode kinetic impactor, yakni menabrakkan wahana antariksa ke asteroid untuk mengubah lintasannya.

    Konsep ini serupa dengan misi DART (Double Asteroid Redirection Test) milik NASA yang pada 2022 berhasil mengubah orbit asteroid Dimorphos. China menargetkan demonstrasi teknologi tersebut sebagai bagian dari Rencana Lima Tahun ke-15 negara itu.

    Peneliti asteroid dari University of Helsinki, Anne Virkki, menilai langkah China dapat memperkuat upaya pertahanan planet jika data yang dihasilkan dibagikan secara terbuka kepada komunitas internasional.

    "Jika China meluncurkan misi serupa, semoga misi itu memiliki kemampuan yang melengkapi sistem yang sudah ada dan datanya dibagikan secara terbuka, bukan hanya untuk ilmuwan China," ujar Virkki.

    Ia menambahkan masih ada sekitar 100.000 asteroid dekat Bumi yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar jika menghantam Bumi. Namun hingga kini, lintasan kurang dari separuh objek tersebut telah diketahui secara pasti.

    Menurut para ilmuwan, semakin cepat asteroid berbahaya ditemukan, semakin besar peluang manusia mengambil tindakan untuk mengurangi risikonya. Karena itu, pengembangan sistem pemantauan oleh berbagai negara dinilai menjadi salah satu elemen penting dalam upaya pertahanan Bumi dari ancaman benda langit di masa depan.

    (rns/rns)

    TAGS

    LIHAT LAINNYA

    2026-07-16 11:46:43 +0000 UTC