Buah Lokal Berlimpah, Mengapa Masyarakat Indonesia Masih Jarang Mengonsumsinya?
Bagikan:
JAKARTA - Indonesia memang memiliki kekayaan buah tropis yang melimpah, kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi buah setiap hari masih jauh dari ideal.
Kondisi ini menjadi perhatian karena rendahnya konsumsi buah berkaitan erat dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, hingga stroke.
Ironisnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beragam buah lokal dengan produksi sepanjang tahun. Pisang, pepaya, mangga, jeruk, semangka, jambu biji, nanas, hingga salak dapat ditemukan dengan mudah di berbagai daerah.
Ketersediaan yang melimpah seharusnya menjadi keuntungan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Namun, kenyataannya buah masih belum menjadi bagian dari pola makan rutin sebagian besar masyarakat Indonesia.
Fenomena tersebut menunjukkan persoalan konsumsi buah tidak lagi berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan semata. Faktor kebiasaan, gaya hidup, pengetahuan, hingga preferensi makanan turut memengaruhi rendahnya konsumsi buah.
Di tengah semakin tingginya angka penyakit kronis, perubahan perilaku makan menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Dilansir dari laman resmi Universitas Airlangga, Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Sebanyak 96,7 persen penduduk berusia lima tahun ke atas belum memenuhi rekomendasi konsumsi buah dan sayur setiap hari.
Standar yang digunakan mengacu pada rekomendasi World Health Organization (WHO), yaitu mengonsumsi sedikitnya lima porsi buah dan sayur setiap hari selama tujuh hari dalam satu minggu. Artinya, hanya sekitar 3,3 persen masyarakat Indonesia yang telah memenuhi anjuran tersebut.
Survei yang sama juga memperlihatkan bahwa sebagian besar masyarakat hanya mengonsumsi satu hingga dua porsi buah dan sayur setiap hari. Bahkan, masih terdapat kelompok masyarakat yang sama sekali tidak mengonsumsi buah maupun sayur setiap hari dalam satu minggu.
Rendahnya konsumsi buah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sebagian orang masih menganggap buah sebagai makanan pelengkap, bukan kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, gaya hidup modern membuat makanan olahan dan minuman tinggi gula lebih sering dipilih karena dinilai lebih praktis. Pada beberapa kelompok masyarakat, keterbatasan akses maupun daya beli juga menjadi hambatan untuk memperoleh buah segar secara rutin.
Apabila kondisi ini terus berlangsung, upaya pencegahan penyakit tidak menular akan menjadi semakin sulit. Padahal, membiasakan konsumsi buah merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
BACA JUGA:
Buah mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh, mulai dari vitamin, mineral, air, hingga serat. Selain itu, buah juga kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, polifenol, dan karotenoid yang memiliki sifat antioksidan.
Berbagai senyawa tersebut berfungsi membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas yang dapat memicu peradangan kronis dan berbagai penyakit degeneratif.
Kandungan serat dalam buah juga memberikan manfaat yang tidak kalah penting. Serat membantu memperlancar sistem pencernaan, mengendalikan kadar gula darah, menurunkan kadar kolesterol, serta memberikan rasa kenyang lebih lama.
Dengan demikian, konsumsi buah secara rutin dapat membantu menjaga berat badan sekaligus mengurangi risiko obesitas yang menjadi salah satu faktor utama berbagai penyakit kronis.
WHO menempatkan konsumsi buah dan sayur sebagai salah satu komponen penting dalam pola makan sehat. Organisasi tersebut merekomendasikan konsumsi minimal 400 gram buah dan sayur setiap hari untuk membantu menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes melitus tipe 2, serta beberapa jenis kanker.
Maka dari itu, buah tidak seharusnya dipandang hanya sebagai makanan penutup. Konsumsi buah setiap hari merupakan bagian dari investasi kesehatan yang manfaatnya dapat dirasakan sepanjang kehidupan.
Indonesia saat ini menghadapi perubahan pola penyakit, dari yang sebelumnya didominasi penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2024, penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker masih menjadi penyebab utama kesakitan maupun kematian di Indonesia.
Berbagai penyakit tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pola makan yang kurang sehat, minimnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, hingga kelebihan berat badan. Oleh karena itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku masyarakat.
Dalam konteks tersebut, konsumsi buah memang bukan satu-satunya solusi. Namun, jika dilakukan secara rutin bersamaan dengan penerapan pola makan seimbang, olahraga teratur, tidak merokok, dan menjaga berat badan ideal, konsumsi buah dapat memberikan kontribusi besar dalam menurunkan risiko penyakit kronis.
Membentuk kebiasaan makan buah tidak bisa dilakukan secara instan. Perubahan perilaku membutuhkan edukasi yang berkelanjutan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Orang tua memegang peranan penting dalam mengenalkan buah kepada anak sejak usia dini. Menjadikan buah sebagai camilan sehari-hari, memperkenalkan beragam buah lokal, serta mengurangi konsumsi makanan tinggi gula merupakan langkah sederhana yang dapat membentuk kebiasaan sehat hingga dewasa.
Selain itu, penyajian buah juga dapat dibuat lebih menarik. Potongan buah berwarna-warni, salad buah dengan tambahan gula yang minimal, smoothies tanpa pemanis tambahan, maupun campuran buah dalam menu sarapan dapat menjadi alternatif agar konsumsi buah terasa lebih menyenangkan.
Pemanfaatan buah lokal juga layak terus didorong. Selain kaya akan kandungan gizi, buah lokal umumnya lebih segar, lebih mudah diperoleh, dan harganya relatif terjangkau. Meningkatkan konsumsi buah lokal juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Melimpahnya produksi buah di Indonesia seharusnya menjadi modal besar untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat. Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi soal ketersediaan buah, melainkan bagaimana membangun kebiasaan mengonsumsinya setiap hari.
Mencegah penyakit tidak selalu membutuhkan biaya besar atau teknologi yang rumit. Kebiasaan sederhana seperti makan buah secara rutin dapat menjadi langkah awal dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup.
Apabila kebiasaan tersebut mulai diterapkan sejak usia dini dan dilakukan secara konsisten, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga mampu mengurangi beban penyakit tidak menular yang selama ini menjadi tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia.
Sepotong buah mungkin terlihat sederhana. Namun, jika menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, manfaatnya dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan masyarakat. Maka dari itu, meningkatkan konsumsi buah bukan sekadar memenuhi anjuran gizi, melainkan investasi nyata untuk mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+