Jakarta -

Berawal dari rasa penasaran terhadap cita rasa masakan Uganda, wanita Indonesia ini mendapat kesempatan memasak hidangan Uganda untuk sebuah konferensi. Begini kisahnya!

Kisah kehidupan diaspora Indonesia di berbagai negara selalu menarik perhatian. Perjuangan hidup, pertahanan identitas budaya, dan pengalaman unik mungkin pernah dirasakan, mengingat mereka hidup dan tinggal di negara orang.

Di sisi lain, banyak juga yang mendapat pengalaman berharga dan membanggakan, seperti dirasakan oleh seorang wanita Indonesia bernama Judith KIrana tau biasa dipanggil Judith.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lewat unggahan di akun Threads (8/9) lalu, mbak Judith mengunggah pengalaman berharganya yang dipercaya sebagai konsultan makanan sekaligus memasak makanan Uganda untuk 500 orang di sebuah konferensi di Amerika Serikat.

Di balik kesuksesan tersebut, rupanya ada kisah menarik yang ia bagikan.

Latar belakang pengusaha kuliner tahu bakso

Judith, yang kini tinggal di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, sebenarnya tidak memulai perjalanan kulinernya dari masakan Uganda.

Latar belakang pendidikannya adalah Food & Beverages Management dan Hotel Management. Namun, sejak kecil ia memang sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia kuliner, terutama memasak.

Kepada detikFood (11/9) Judith bercerita bahwa karirnya di bidang kuliner pun sudah berlangsung cukup panjang.

Pada tahun 2012, wanita ini memulai usaha Tahu Bakso Bu Broto yang kini produknya masih aktif dijual di supermarket Indonesia, termasuk ke supermarket Grand Lucky hingga beberapa hotel di Las Vegas.

Seiring waktu, ia tidak hanya menjalankan usaha kuliner, tetapi juga dipercaya menjadi konsultan makanan untuk sejumlah acara.

"Jadi, dunia kuliner memang sudah menjadi bagian besar dari perjalanan hidup dan karier saya," ujar Judith.

Berawal dari keluarga dan rasa penasaran terhadap Uganda

Belajar dari YouTube, WNI inI Berhasil Masak Makanan Uganda di AmerikaJudith awalnya merasa penasaran dengan masakan Uganda sampai akhirnya mendalami kuliner ini. Foto: Threads @mbakjudith

Ketertarikan Judith terhadap kuliner Uganda bermula dari lingkungan keluarganya sendiri. Kebetulan, suaminya memiliki darah Uganda dan setiap ada acara keluarga, mereka kerap memasak makanan khas Uganda.

Awalnya Judith mengaku belum terbiasa dengan cita rasa masakan tersebut. Namun, semakin sering mencicipi, justru muncul rasa penasaran.

Ia kemudian mulai tertarik mempelajari masakan Uganda secara lebih mendalam. Bukan hanya mementingkan rasa, tetapi ia juga mempelajari bahan-bahan, teknik memasak, hingga bagaimana cara mempertahankan cita rasa aslinya.

Dari rasa penasaran dan lingkungan keluarga tersebut, Judith akhirnya berlatih untuk memasak makanan Uganda. Menariknya, ia tidak mendapat kemampuan memasak makanan Uganda melalui pendidikan formal. Justru sebagian besarnya ia belajar mandiri atau otodidak melalui YouTube.

Namun, untuk memperdalam teknik memasak dan memastikan cita rasanya benar-benar autentik, Judith kemudian belajar langsung dari orang Uganda yang tinggal di Amerika Serikat.

Perjalanan ini kemudian mendatangkan kesempatan lebih besar bagi Judith untuk bisa membuktikan keahliannya dalam memasak.

Menurut Judith, kebetulan saat itu sebuah organisasi Uganda-Amerika mengadakan konferensi tahunan dan mencari seorang konsultan makanan yang memang memahani masakan Uganda sekaligus memiliki lisensi untuk bekerja secara profesional. Judith pun memberanikan diri untuk mendaftar.

"Setelah melalui beberapa tahap seleksi dan food tasting, akhirnya saya terpilih untuk menangani sajian bagi sekitar 500 tamu," ujar Judith kepada detikFood.

Pemilihan menunya saat itu dilakukan oleh panitia. Judith sebagai seorang konsultan makanan bertugas untuk bekerja sama dengan chef eksekutif hotel dalam mengeksekusi menu tersebut.

"Sekaligus memberikan arahan dan mengajarkan proses memasak makanan Uganda dari awal agar cita rasanya tetap autentik," lanjutnya.

Menu yang dimasak oleh Judith untuk konferensi tersebut antara lain; matooke atau makanan pokok khas Uganda terbuat dari pisang, posho atau ugali, kari sapi dan kari kambing.

Tantangan terbesar memasak 500 porsi makanan Uganda

Belajar dari YouTube, WNI inI Berhasil Masak Makanan Uganda di AmerikaJudith menemukan sejumlah tantangan dalam masak makanan Uganda berporsi besar. Foto: Threads @mbakjudith

Memasak 500 porsi makanan tentu membutuhkan strategi berbeda dari memasak makanan untuk keluarga di rumah atau dalam skala kecil. Judith menggambarkan prosesnya seperti sedang "berpacu dalam melodi."

Dirinya perlu bergerak cepat, tetapi tetap terorganisir. Persiapan bahan, pembagian tugas, koordinasi tim, hingga ketepatan waktu menjadi faktor penting afar hidangan tersaji dengan baik.

Namun, tantangan terbesar justru datang dari persiapan bahan-bahannya. Menurut Judith, beberapa bahan asli cukup sulit ditemukan di Amerika, sehingga harus didatangkan langsung dari Uganda.

Bagi Judith pemakaian bahan asli penting untuk diperhatikan karena merupakan bagian daru upaya menjaga cita rasa masakan agar tetap autentik.

Kerja keras yang terbayarkan

Belajar dari YouTube, WNI inI Berhasil Masak Makanan Uganda di AmerikaBeruntungnya, kerja kerasnya bersama tim terbayarkan dengan banyak yang memuji masakannya. Foto: Threads @mbakjudith

Meski melalui banyak tantangan, kerja keras Judith terbayarkan. Hidangan yang ia dan tim siapkan selesai tepat waktu, tersaji dengan baik, bahkan mendapat respon positif dari para tamu.

"Ada kepuasan tersendiri ketika semua hidangan selesai tepat waktu, tersaji dengan baik, dan mendapat respon positif- terutama dari tamu-tamu Uganda yang mengatakan bahwa rasanya autentik. Bagi saya, itu menjadi bentuk apresiasi yang sangat berarti," jelas Judith kepada detikFood.

Usai berhasil dengan pengalaman memasak makanan Uganda ini, Judith mengungkap jika dirinya akan membuka usaha coffee truck di Las Vegas.

"Jadi saya sekarang juga menjadi 'tukang kopi keliling'," candanya.

Namun, dirinya tetap menjalankan usaha tahu baksonya. Biasanya, menjelang musim dingin Judith mulai menerima pesanan tahu bakso ke berbagai negara bagian di Amerika.

Judith menyatakan harapannya dengan mengungkap, "Ke depannya saya ingin terus mengembangkan kedua usaha ini, sambil tetap terbuka terhadap kesempatan menjadi food consultant proyek-proyek kuliner lainnya."

(aqr/sob)