Alarm Pendidikan! Siswa SMA Kesulitan Pahami Teks Panjang, Ini Kata BRIN
Bagikan:
JAKARTA – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Anggi Afiansyah menilai, kemampuan literasi siswa di jenjang SMA/SMK lebih rendah dibandingkan siswa SD–SMP.
Berdasarkan temuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam pembentukan kemampuan membaca sejak jenjang awal.
Menurutnya, penurunan tersebut berkaitan erat dengan lemahnya fondasi literasi yang dibangun secara bertahap.
Akibatnya, ketika siswa menghadapi materi bacaan yang lebih kompleks di tingkat SMA, mereka kesulitan untuk memahami isi teks secara utuh.
“Di jenjang SMA, teks menjadi lebih panjang dan kompleks. Kalau fondasinya tidak kuat, siswa akan kesulitan mengikuti,” ungkapnya, Minggu 12 Juli.
Anggi menjelaskan, kemampuan literasi tidak hanya dipengaruhi oleh minat baca, tetapi juga oleh berbagai faktor lain seperti dukungan keluarga, lingkungan sekolah, serta ketersediaan bahan bacaan yang sesuai dan memadai.
Dia melihat, banyak siswa belum terbiasa membaca teks panjang secara mendalam sejak dini.
Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas, baik di rumah maupun di sekolah.
Di sisi lain, perubahan pola konsumsi informasi juga ikut berperan. Dominasi budaya layar dan konten video pendek dinilai memengaruhi daya fokus siswa dalam membaca teks panjang.
“Anak-anak sekarang lebih sering terpapar konten singkat. Ini membuat mereka kurang terbiasa membaca teks yang panjang dan membutuhkan konsentrasi tinggi,” sambungnya.
Karena itu, Anggi menekankan pentingnya pembiasaan membaca yang dilakukan secara konsisten dan bertahap sejak usia dini. Ia juga mendorong penerapan metode pembelajaran seperti dialogic reading, yang tidak hanya menekankan aktivitas membaca, tetapi juga diskusi untuk memperdalam pemahaman.
Selain itu, diperlukan adanya intervensi yang lebih kuat dari pemerintah untuk memperbaiki kualitas literasi. Mulai dari penyediaan buku yang terjangkau, penguatan perpustakaan sekolah dan desa, hingga pembudayaan diskusi literasi di lingkungan pendidikan.
BACA JUGA:
Upaya perbaikan di tingkat SMA, lanjut Anggi, harus dilakukan secara lebih intensif, terutama pada sekolah dengan capaian literasi rendah.
Bahkan, siswa bisa didorong untuk kembali membaca teks yang lebih sederhana sebagai langkah awal.
Dia juga menegaskan bila temuan Kemendikdasmen tersebut menjadi peringatan bahwa tanpa fondasi yang kuat, kemampuan literasi siswa berisiko tidak berkembang optimal di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Padahal, literasi menjadi kunci dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+