Zionis Pembenci Kaum Yahudi |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID,Zionisme memiliki rekam jejak yang kelam: pembersihan etnis Palestina, perang tanpa akhir, sistem pemisahan ras (apartheid), perampasan tanah, hingga tuduhan genosida yang terjadi saat ini. Namun, ada babak lama yang lebih gelap dan kurang diketahui publik: dampak buruk dan kerugian yang ditimbulkan Zionisme terhadap kaum Yahudi yang klaimnya mereka lindungi.
Banyak penganut utama dari ideologi—yang menampilkan dirinya sebagai pelindung kaum Yahudi dunia—justru "membenci kaum Yahudi" sepanjang sejarahnya, demikian argumen yang diangkat Joss Sheldon dalam buku terbarunya bertajuk The Zionists Who Hate Jews seperti dilansir dari laman Middle East Monitor.
"Kita telah dimanipulasi (digaslight) terlalu lama," tulis Sheldon di bagian pembuka bukunya, menantang premis umum bahwa Zionisme melayani kepentingan kaum Yahudi. Ia melanjutkan: "Kebohongan ini—bahwa Israel adalah 'Negara Yahudi', tempat yang melayani umat Yahudi—telah diulang berkali-kali selama bertahun-tahun, hingga tertanam kuat dalam kesadaran publik."
Dalam 11 bab dan lebih dari 300 halaman, Sheldon mengutip temuan para sejarawan terkemuka seperti Tom Segev, Avi Shlaim, dan Ella Shohat untuk membuktikan bahwa kaum Zionis "selalu meremehkan dan memfitnah orang Yahudi yang tidak mereka sukai", "bersekutu dengan beberapa pembenci Yahudi terbesar di planet ini", serta "mencabut hak kami untuk menentukan nasib sendiri". Rumusan utama buku ini menyimpulkan: Zionisme dan antisemitisme berjalan berdampingan, layaknya keju krim dan bagel.
Buku ini dibuka dengan menyoroti para pendiri gerakan tersebut. Theodor Herzl, yang dianggap sebagai "bapak Zionisme Politik", memandang orang Yahudi sebagai sosok yang "tidak berpendirian, tertekan, dan lusuh", serta "rusak oleh penindasan." Pendiri Zionisme modern tersebut bahkan menggunakan kata makian antisemit "Mauschel" bagi orang Yahudi yang menolak proyeknya.
Pelopor Zionisme lainnya, Ze’ev Jabotinsky, menggambarkan stereotip "Yid" (sebutan bernada merendahkan untuk orang Yahudi) sebagai sosok yang "buruk rupa", "sakitan", "mudah diinjak-injak dan ketakutan", serta "dihina oleh semua orang".
Sementara itu Moses Hess, intelektual pendahulu Zionisme Buruh, menyebut kaum Yahudi diaspora sebagai "parasit". Penghinaan ini, argumen Sheldon, menjadi bahan bakar proyek tersebut: denigrasi kaum Yahudi terlebih dahulu, lalu tawarkan "negara Yahudi" sebagai obatnya.