asiawebawards.com
  • 2026-08-08 03:07:15 +0000 UTC

    Aug 08, 2026

    YIARI sebut karhutla yang terus berulang di Ketapang picu konflik orangutan-warga - ANTARA News Megapolitan

    Bengkayang (ANTARA) - Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, telah memicu siklus konflik berkepanjangan antara orangutan dan warga akibat semakin rusaknya habitat satwa liar.

    Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul di Pontianak, Sabtu, mengatakan pembukaan lahan dengan cara membakar yang tidak terkendali telah mempercepat kerusakan habitat orangutan.

    Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, kata dia, satwa kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung sehingga terdorong masuk ke perkebunan warga.

    "Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga," katanya.

    Baca juga: Tiga orang utan hasil rehabilitasi dilepasliarkan ke kawasan TNBBBR

    Menurut Silverius, kondisi tersebut membuat masyarakat dan orangutan sama-sama menjadi korban. Warga mengalami kerugian ekonomi akibat tanaman yang rusak serta meningkatnya rasa khawatir terhadap keberadaan satwa liar, sementara orangutan kehilangan ruang hidupnya.

    "Artinya, orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama. Situasi ini juga menimbulkan beban besar bagi negara, baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat," ujarnya.

    Ia menambahkan, kondisi karhutla di Ketapang kini tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan lingkungan karena telah menimbulkan dampak yang lebih luas.

    "Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita," katanya.

    Baca juga: Tim gabungan berhasil kendalikan karhutla di empat provinsi

    Catatan YIARI menunjukkan konflik tersebut bukan peristiwa baru. Di kawasan Desa Kuala Tolak dan sekitarnya, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI pernah melakukan penyelamatan sejumlah orangutan saat kebakaran besar melanda wilayah tersebut pada 2015 dan 2019.

    Peristiwa serupa kembali terjadi pada 2026 ketika seekor orangutan jantan yang kemudian diberi nama 'Wak' ditemukan berada di perkebunan buah milik warga.

    Kehadiran orangutan itu sempat menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi merusak tanaman. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan yang meluas di sekitar desa meningkatkan risiko terhadap keselamatan satwa maupun masyarakat sehingga BKSDA Kalbar bersama YIARI memutuskan mengevakuasi orangutan tersebut untuk mencegah konflik.

    Seorang warga Desa Kuala Tolak Morsali mengatakan konflik antara satwa liar dan masyarakat terus berulang sejak pembukaan lahan semakin masif di wilayah tersebut.

    "Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia mencari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi," katanya.

    Setelah dievakuasi, orangutan tersebut dilepasliarkan kembali ke areal konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) yang berada dalam bentang hutan yang sama dengan habitat asalnya. Perusahaan yang mengelola sekitar 36.972,56 hektare ekosistem gambut itu dinilai masih memiliki populasi orangutan liar yang sehat dengan kondisi habitat yang aman.

    Baca juga: Karhutla di Kerumutan Pelalawan Riau capai 54 hektare

    General Manager PT Mopakha Wendi Tamariska mengatakan lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis karena memiliki tutupan tajuk yang memadai serta ketersediaan pakan yang cukup.

    Perusahaan juga berkomitmen mendukung pemantauan lanjutan agar orangutan dapat beradaptasi dengan baik di habitat alaminya.

    Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan penanganan konflik satwa liar memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

    Menurut dia, translokasi dilakukan bukan sekadar memindahkan satwa, melainkan sebagai langkah mitigasi agar keselamatan masyarakat dan orangutan sama-sama terjaga. Ia juga mengingatkan bahwa habitat orangutan semakin terdesak akibat fragmentasi hutan yang diperparah oleh kebakaran hutan dan lahan.

    "Penyelesaian konflik manusia dan satwa liar tidak dapat dipisahkan dari pengendalian karhutla, perlindungan habitat, serta penegakan hukum terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar," ujarnya.

    Pewarta: Narwati
    Uploader : Naryo

    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-08-08 03:07:15 +0000 UTC