Yen Jepang menguat ke level terkuatnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun ini setelah menembus level 155 per dolar AS. 

Melansir Bloomberg, Yen menguat 0,8% ke level 153,16 per dolar AS pada Selasa (8/9), setelah sebelumnya melonjak 1,2%. Dengan demikian, penguatan yen sepanjang September telah mencapai sekitar 4%, sekaligus menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di antara kelompok mata uang G10.

"Penembusan area support tersebut jelas membuka pintu bagi pergerakan untuk berlanjut lebih jauh," kata Strategist National Australia Bank (NAB) Rodrigo Catril pada Selasa (8/9). 

Menurut dia, yen masih berpeluang semakin menguat terhadap dolar AS, menguji level 152,27 dan 152,10. Ini adlah level terkuat yen terhadap dolar AS sepanjang tahun ini.

Pasar Menanti Data Inflasi AS

Setelah reli tajam dalam beberapa hari terakhir, perhatian pasar kini beralih ke perkembangan ekonomi AS. Investor akan mencermati data inflasi AS yang dijadwalkan dirilis pada Jumat untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed).

Data tersebut menjadi penting karena prospek suku bunga AS akan turut menentukan arah pergerakan dolar dan yen. Jika inflasi AS tetap tinggi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat dapat kembali menguat dan berpotensi membatasi penguatan yen.

Di Jepang, investor juga akan mencermati pidato anggota Dewan BOJ Kazuyuki Masu untuk mencari sinyal mengenai kemungkinan laju kenaikan suku bunga berikutnya.

Motonari Sakai, chief manager foreign exchange and financial products trading di Mitsubishi UFJ Trust & Banking menilai, Ketua The Fed Kevin Warsh akan tetap berhati-hati terhadap inflasi bahkan jika realisasinya di bawah ekspektasi.  

Kondisi ini dapat menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga dan sewaktu-waktu memicu kembali tren dolar AS menguat dan yen melemah. 

Meski momentum penguatan yen saat ini cukup kuat, sejumlah analis mengingatkan potensi pembalikan arah. Perbedaan suku bunga Jepang dan AS yang masih lebar serta defisit perdagangan Jepang tetap menjadi hambatan struktural bagi yen.

Chief market strategist Aozora Bank Akira Moroga memperkirakan, yen masih berpeluang menguat terhadap dolar AS dan menuju level 155 setelah proses penyesuaian posisi saat ini selesai. Dia menilai yen kemungkinan bergerak dalam rentang tertentu dalam jangka pendek.

Sementara itu, penguatan yen yang berlangsung cepat juga meningkatkan risiko pembalikan posisi yen-funded carry trade. Dalam strategi tersebut, investor meminjam yen dengan biaya rendah untuk kemudian menempatkan dana pada aset berimbal hasil lebih tinggi.

"Pandangan dasar kami adalah penembusan di bawah level 154 dapat memicu pembalikan lebih lanjut pada transaksi yen carry trade dan tambahan stop-loss, sehingga memberikan ruang bagi yen untuk terus menguat," kata Senior rates and FX strategist di SMBC Nikko Securities, Rinto Maruyama.

Namun, dia menambahkan bahwa posisi investor yang lebih ringan juga membuka peluang bagi investor untuk kembali mengambil posisi jual yen.