Wonosobo -
Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, pernah mencatat kemacetan hingga enam jam dan disebut mengungguli Bogor sebagai daerah paling macet di Indonesia. Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menyebut kondisi itu terjadi karena tingginya minat wisatawan yang ingin berkunjung ke kawasan Dieng.
Afif mengungkapkan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam peresmian hotel Artotel Wanasaba di Wonosobo. Dia mengatakan, kemacetan di daerahnya yang biasa terjadi di akhir pekan bahkan pernah menjadi pembahasan dalam rapat di Mabes Korlantas Polri.
"Kita pernah mendapati rekor kabupaten paling macet se-Indonesia. Ini masuk dalam rapat Korlantas Mabes Polri, itu disampaikan dalam (meeting) zoom. Jadi kita itu mengungguli Bogor. Biasanya kan Bogor yang macet, ini Wonosobo macetnya enam jam," kata Afif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, kemacetan tersebut menjadi salah satu indikasi tingginya minat masyarakat untuk berwisata ke Wonosobo, terutama ke Dieng. Kondisi itu sekaligus menunjukkan besarnya potensi pariwisata yang dimiliki daerah tersebut.
"Karena banyak orang yang ingin ke Dieng ini pertanda bahwa banyak orang yang datang," ujarnya.
Wonosobo selama ini dikenal memiliki beragam daya tarik wisata, mulai dari panorama pegunungan, udara sejuk, kekayaan budaya, hingga kuliner khas seperti Sagon dan mie ongkloknya. Dieng menjadi salah satu magnet utama yang menarik wisatawan dari berbagai daerah.
Namun, tingginya kunjungan wisatawan juga menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, terutama dalam menyiapkan infrastruktur, fasilitas pendukung, dan kenyamanan wisatawan selama berkunjung.
Afif mengatakan, pemerintah daerah berupaya membangun citra Wonosobo sebagai kabupaten yang ramah bagi wisatawan. Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam dan infrastruktur, tetapi juga perlu didukung perubahan pola pikir serta sikap masyarakat dalam menyambut pengunjung.
Dia menekankan pentingnya keramahan yang dimulai dari lingkungan keluarga hingga kehidupan bermasyarakat. Sikap ramah, senyum, salam, dan sapa dinilai dapat membuat wisatawan merasa nyaman dan betah berada di Wonosobo.
"Kita harus merubah Wonosobo yang tercinta ini menjadi kabupaten yang ramah. Masyarakatnya harus ramah. Semua adalah saudara, semua adalah sahabat. Yuk bergandeng tangan, kita sambut orang luar yang datang," tuturnya.
Selain mendorong keramahan masyarakat, pemerintah daerah juga berupaya memperkuat kolaborasi dengan pelaku usaha untuk mengembangkan pariwisata. Kehadiran investasi di sektor perhotelan diharapkan dapat memperluas pilihan akomodasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Afif menilai, investasi tidak hanya menambah jumlah usaha di daerah, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan aktivitas ekonomi, dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam perkembangan pariwisata.
Dengan potensi wisata yang dimiliki dan meningkatnya minat pengunjung, Wonosobo diharapkan dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah. Tantangannya adalah memastikan lonjakan kunjungan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan, kenyamanan, serta pengelolaan kawasan wisata.
(ddn/ddn)