Elaine Tairio,  CNBC Indonesia

29 September 2026 10:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar, sementara rupiah mengalami pelemahan terdalam.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.45 WIB, enam dari 10 mata uang Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tiga mata uang melemah, sedangkan satu lainnya tidak berubah.

Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,13% ke KRW 1.357,59/US$, disusul yuan China dan peso Filipina yang masing-masing naik 0,08% ke CNY 6,7051/US$ dan PHP 62,391/US$.

Penguatan juga terjadi pada baht Thailand sebesar 0,03% ke THB 33,57/US$ dan dong Vietnam sebesar 0,02% ke VND 25.970/US$. Sementara itu, yen Jepang mencatat kenaikan paling tipis sebesar 0,01% ke JPY 157,36/US$.

Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terdepresiasi 0,14% ke Rp17.990/US$. Dolar Taiwan dan dolar Singapura turut melemah masing-masing 0,11% ke TWD 31,812/US$ dan 0,07% ke SGD 1,277/US$. Adapun ringgit Malaysia tidak berubah di MYR 4,080/US$.

Pergerakan mata uang Asia tersebut terjadi ketika dolar AS cenderung stabil pada perdagangan pagi ini. Pada waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY) tercatat tidak berubah di level 101,202. Meski bergerak terbatas, dolar masih bertahan di dekat level tertingginya dalam dua bulan.

Kekuatan dolar dalam beberapa waktu terakhir ditopang oleh gejolak harga minyak dan kenaikan imbal hasil Treasury AS, mengutip Reuters. Kondisi tersebut membawa DXY berada di jalur penguatan sekitar 1,8% sepanjang September.

Arah dolar selanjutnya akan turut bergantung pada sejumlah data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis pekan ini. Pelaku pasar mencermati data tersebut untuk mendapat petunjuk mengenai prospek suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Joseph Capurso, kepala valuta asing Commonwealth Bank of Australia, memperkirakan data ekonomi AS yang kuat dapat mendorong suku bunga AS dan dolar lebih tinggi.

"Saya kira hal itu akan mendorong suku bunga AS naik dibandingkan negara lain, sekaligus memperkuat dolar AS," kata Capurso, dikutip dari Reuters.

Perhatian pasar akan tertuju pada data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pada Rabu, kemudian laporan nonfarm payrolls (NFP) pada Jumat. Kedua data tersebut akan menjadi acuan pasar dalam menilai prospek kebijakan The Fed sekaligus arah pergerakan dolar AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)