Bogor, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan Menteri Keuangan Suahasil Nazara tetap mendorong pertumbuhan ekonomi atau pro-growth.

Menurut Suahasil, seluruh pengambil keputusan ekonomi di Indonesia memiliki orientasi yang sama untuk mendorong pertumbuhan, termasuk melalui kebijakan fiskal.

Hal tersebut disampaikan Juda saat ditanya apakah Suahasil akan memiliki kebijakan yang juga pro-growth seperti Menteri Keuangan sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya kira semua kita di sini pro-growth, benar enggak? Kita semua yang di ruangan ini semua pro-growth. Seluruh pengambil keputusan di Indonesia akan pro-growth," ujar Juda dalam media gathering, Kamis (1/10).

Menurut Juda, kebijakan untuk mendorong pertumbuhan mencakup tiga aspek, yakni pertumbuhan (to grow), perlindungan (to protect), dan transformasi (to transform).

Ia mencontohkan bantuan sosial (bansos) yang dapat menjaga kemampuan konsumsi masyarakat rentan sehingga pada akhirnya turut mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Kalau enggak ada bansos, ini masyarakat yang rentan enggak bisa melakukan konsumsi. Karena ada bansos, dia bisa melakukan konsumsi dengan baik. Jadi ini pro-growth. Tiga tadi itu pro-growth," katanya.

Namun, Juda menekankan seluruh kebijakan tersebut tetap harus berada dalam koridor kehati-hatian fiskal (fiscal prudence).

Ia mengatakan pemerintah tetap perlu menjaga defisit dan utang sesuai batas yang diatur dalam undang-undang.

"Tapi semua ini di dalam koridor prudence. Fiskal yang prudence. Indikatornya, ya defisitnya di bawah 3 persen. Saat ini kan gitu kan. Kita sepakatnya kan gitu di undang-undang. Utangnya dijaga di bawah 60 persen," ujarnya.

Juda menambahkan posisi utang pemerintah saat ini masih berada di bawah 40 persen.

Menurut Juda, kebijakan fiskal pada dasarnya memang memiliki fungsi untuk mendorong pertumbuhan.

[Gambas:Youtube]

Namun, fungsi tersebut harus berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian agar kondisi fiskal tetap terjaga.

"Semua pro-growth, apalagi fiskal. That's the role of fiscal policy. To grow, but at the same time kita harus jaga prudential. Jaga, ya hati-hati. Menjaga fiskal ini jangan sampai jebol," tegasnya.

Ia mengingatkan kondisi fiskal yang tidak terjaga dapat memengaruhi kepercayaan terhadap pemerintah dan minat investor maupun pemberi pinjaman.

"Kalau jebol, ya siapa yang mau memberikan? Enggak ada yang masuk, enggak ada yang mau memberikan pinjaman. Enggak ada yang mau invest," pungkas Juda.

(lau/sfr)