asiawebawards.com
  • 2026-07-27 10:56:39 +0000 UTC

    Jul 27, 2026

    Wamendiktisaintek: Kampus tak boleh hanya hasilkan tumpukan jurnal

    Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan industri, masyarakat, serta media

    Surabaya (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menegaskan perguruan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan tumpukan jurnal ilmiah, tetapi harus menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

    Wamendiktisaintek Fauzan saat menghadiri kick-off Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin, menjelaskan mahasiswa perlu diterjunkan ke masyarakat untuk belajar dari berbagai realitas sosial dan ditantang untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

    "Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan industri, masyarakat, serta media. Dengan demikian karya-karya akademik kampus tidak hanya berakhir sebagai tumpukan jurnal ilmiah, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat," ucapnya.

    Dalam program tersebut sebanyak 16.000 mahasiswa Unesa akan diterjunkan ke masyarakat selama empat bulan untuk belajar dari berbagai realitas sosial, sekaligus menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

    Baca juga: Kemdiktisaintek-Perpusnas RI permudah layanan jurnal ilmiah mahasiswa

    Program tersebut melibatkan 1.152 mitra di dalam dan luar negeri yang berasal dari unsur pemerintah, dunia usaha dan industri, masyarakat, serta berbagai lembaga lainnya.

    Menurut Fauzan, pengalaman belajar di lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berkolaborasi, beradaptasi, memecahkan persoalan, dan membangun empati.

    Rektor Unesa Prof Nurhasan mengatakan mobilitas akademik merupakan laboratorium kehidupan yang memberi kesempatan kepada mahasiswa menguji pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah melalui pengalaman nyata di dunia usaha, industri, dan masyarakat.

    "Program ini sejalan dengan misi pembangunan nasional. Di era global saat ini mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga diuji dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan problem solving, empati, dan kerja sama tim," tutur Cak Hasan, sapaannya.

    Baca juga: Kemdiktisaintek ajak penerima beasiswa perkuat budaya ilmiah unggul

    Mahasiswa mengikuti sembilan skema kegiatan, yakni magang, Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP), riset, pertukaran mahasiswa, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, wirausaha, studi independen, asistensi mengajar, serta proyek kemanusiaan.

    Salah satu peserta, Aldito Christian Putra, mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Unesa, mengikuti program magang di PT Aplikasi Bisnis Digital Indonesia sebagai programer yang bertugas mengembangkan sistem berbasis web, memperbaiki kendala teknis, serta berkolaborasi dalam pengujian sistem.

    “Saya jadi bisa melatih soft skill seperti komunikasi, kerja sama tim, problem solving, dan profesionalisme,” ucapnya.

    Pada kesempatan yang sama Unesa juga memperkenalkan maskot baru bernama Si Prio, akronim dari Progresif, Responsif, Inovatif, dan Optimis, sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-62 Unesa.

    Baca juga: Kemdiktisaintek fokuskan riset prioritas lewat Kosabangsa 2026

    Pewarta: Willi Irawan
    Editor: Risbiani Fardaniah
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-07-27 10:56:39 +0000 UTC