Wamenag minta dugaan keracunan di Ponpes Manbaul Hikam diinvestigasi

Jumat, 4 September 2026 17:22 WIB

Image Print

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii menjenguk santri yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jumat (4/9/2026). ANTARA/HO-Kemenag

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii meminta dugaan keracunan makanan yang dialami santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, diinvestigasi untuk memastikan penyebabnya.

“Karena sudah hampir satu tahun dapur ini menyuplai anak-anak ini dan baru sekarang terjadi masalah, tentu kita perlu investigasi apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Wamenag dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan Wamenag saat menjenguk santri yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.

Dalam kunjungannya terdapat delapan pasien yang sedang menjalani perawatan. Dari jumlah tersebut, lima pasien sudah diperbolehkan pulang, sementara tiga lainnya masih memerlukan perawatan.

Menurutnya, keluhan yang disampaikan para santri berkaitan dengan gangguan pada perut dan rasa mual, namun kondisinya tidak berat.

“Yang dirawat ada delapan. Kata kepala rumah sakit, lima hari ini akan dipulangkan, tinggal tiga. Jadi anak-anak tadi memang ada yang mengeluh perutnya, mual, tetapi tidak terlalu berat,” ujar Wamenag.

Menurut Romo Syafii, penyebab kejadian tersebut belum dapat disimpulkan. Ia menyebut makanan dari dapur yang sama telah diterima para santri selama hampir satu tahun tanpa persoalan serupa.

Wamenag menyebut keluhan para santri banyak berkaitan dengan dua menu, yakni telur dan sayuran. Namun, ia menegaskan hal tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut, termasuk kemungkinan adanya persoalan dalam proses memasak maupun waktu konsumsi makanan yang tidak sesuai dengan petunjuk teknis (juknis).

“Apakah ada proses memasaknya yang tidak sesuai atau ada waktu makannya yang tidak sesuai dengan juknis, itu yang harus kita investigasi,” ujarnya.

Untuk memastikan penyebabnya, dapur yang memasok makanan kepada para santri tersebut dihentikan sementara untuk dilakukan evaluasi. Wamenag mengatakan evaluasi perlu melihat secara menyeluruh kemungkinan persoalan yang terjadi di dapur penyedia MBG.

Di sisi lain, Romo Syafii mengatakan kebutuhan santri terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) tinggi. Ia menyebut para santri selama ini menyambut baik program tersebut dan menunggu makanan yang diberikan melalui MBG.

“Mereka sangat membutuhkan MBG itu. Keinginan untuk mendapatkan MBG itu cukup tinggi,” ujar Wamenag.

Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Kementerian Agama terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperluas cakupan MBG bagi pesantren dan madrasah.

Wamenag mengatakan Kemenag bersama Direktorat Pesantren tengah mempercepat komunikasi dengan BGN agar semakin banyak pesantren dan madrasah yang mendapatkan program tersebut, termasuk di wilayah terpencil.

“Kita sedang ngebut dengan Pak Direktur Pesantren supaya tidak ada pesantren yang tidak mendapatkan MBG, termasuk madrasah,” katanya.

Wamenag berharap pada tahun ini tidak ada lagi madrasah maupun pesantren yang belum mendapatkan MBG.

Ia juga menyampaikan adanya penyesuaian skema pengelolaan dapur, sehingga pesantren dengan jumlah santri sekitar 1.000 atau sedikit di bawahnya dapat meningkatkan atau membangun dapur sendiri dengan tetap memenuhi standar yang ditetapkan, terutama terkait kebersihan, pencucian, penyimpanan, dan pengelolaan limbah.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan tidak boleh ada toleransi terhadap petugas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak bertanggung jawab dalam penyediaan makanan bagi penerima manfaat.

Zulhas mencontohkan ketepatan waktu antara makanan selesai dimasak, didistribusikan, dan dikonsumsi sebagai salah satu hal yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan MBG.

“Tidak boleh ada toleransi kepada petugas yang tidak bertanggung jawab. Itu kan makan dimasak jam setengah enam, jam enam (WIB). Harusnya dimakan jam sepuluh, jam sebelas (WIB). Dikirimnya jam sebelas (WIB)” kata Zulhas.

Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026