Bandung (ANTARA) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat (Jabar) meminta pemerintah dan aparat penegak hukum menindak tegas praktik pemburuan dan perdagangan ilegal Burung Ekek Keling Sunda atau Ekek Geling Jawa (Cissa thalassina) yang terancam mengalami kepunahan.

Manager Divisi Pendidikan WALHI Jabar M. Jefry Rohman mengatakan perdagangan ilegal menjadi salah satu ancaman terhadap keberlangsungan populasi burung endemik Jawa Barat tersebut selain kerusakan habitat.

“Pertama, karena salah satu penyebab kepunahan ini adalah maraknya jual beli, jual beli ilegal. Kami harap kalau terdapat banyak komunitas yang memperjualbelikan hewan ini secara ilegal, ya ditindak secara hukum,” ujar Jefry kepada ANTARA di Bandung, Jumat.

Menurut dia, tindakan tegas diperlukan untuk mencegah perburuan dan perdagangan ilegal yang dapat semakin menekan populasi Ekek Keling Sunda di alam.

“Karena memang kalau ini tidak ada tindakan tegas dari pihak tertentu, burung ini akan terus terancam kepunahan,” katanya.

Jefry mengatakan keberadaan Ekek Keling Sunda masih terpantau di sejumlah kawasan hutan Jabar, antara lain di Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Namun jumlahnya yang terbatas membuat keberadaan burung tersebut semakin sulit ditemukan saat dilakukan observasi.

“Kalau di Jawa Barat itu terpantau masih ada beberapa. Cuma sulit kalau kita menjelajah atau observasi, misalnya di Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Masih terkadang kita bisa melihat, cuma karena jumlahnya terbatas maka interaksinya susah,” ujarnya.

Berdasarkan perkiraan, lanjutnya, populasi Ekek Keling Sunda yang masih bertahan di sejumlah kawasan hutan Jabar pada kisaran 50 hingga 250 ekor.

Jefry menilai jumlah tersebut menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan karena keberlangsungan populasi sangat bergantung pada ketersediaan habitat, pepohonan, dan sumber pakan.

“Kalau wilayahnya kritis, sudah tidak ada pepohonan, sudah tidak ada tempat untuk mencari makan, ya mau di mana lagi?” katanya.

Selain perdagangan ilegal, Jefry menyebut deforestasi dan kerusakan lingkungan menjadi ancaman serius bagi satwa endemik tersebut. Menurut dia, tekanan terhadap lingkungan tidak hanya berdampak pada satwa, tetapi juga keseluruhan ekosistem.

“Jadi bukan hanya masalah dunia hewan, abiotik maupun biotik. Semuanya saling berhubungan. Ketika ruang hidupnya terganggu, mau tidak mau berimbas juga pada keberadaan hewan,” ujarnya.

Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.