W.R. Soepratman dan lagu yang tiba sebelum negara
Soepratman tidak menciptakan Indonesia. Ia menciptakan salah satu cara bagi orang-orang yang belum menjadi satu untuk membayangkan dirinya sebagai satu
Sleman (ANTARA) - Setiap Senin pagi, di ratusan ribu sekolah di Indonesia, sebuah ritual berlangsung.
Anak-anak berbaris di bawah matahari yang biasanya belum terik, tetapi sudah cukup membuat beberapa murid mulai menggeser kaki, mencari sedikit bayangan untuk berteduh tipis-tipis.
Para guru berdiri di depan mereka dengan wajah tenang, seperti tak terganggu lagi dengan bunyi pengeras suara yang kadang-kadang berderak.
Lalu terdengar perintah: “Kepada Sang Saka Merah Putih, hormat... gerak!”
Beberapa detik kemudian, Indonesia Raya mengalun. Selama 1 menit 50 detik, semua berdiri dalam sikap yang sama dan menyanyikan lagu yang sama.
Tentu tak semua memahami mengapa mereka harus berdiri tegak ketika lagu itu dimainkan. Sebagian mungkin sedang menahan panas. Sebagian mengantuk. Sebagian lagi hanya menunggu upacara selesai.
Begitulah, seperti banyak ritual yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, upacara sering dijalani lebih sebagai kebiasaan daripada perenungan.
Terlepas dari itu, sebuah lagu yang diciptakan seorang pemuda sahaja bernama Wage Rudolf Soepratman sekitar seabad lalu itu masih mampu membuat jutaan orang berhenti sejenak dari urusan masing-masing, baik di sekolah, kantor pemerintahan, stadion, maupun Istana Negara.
Bahkan, di negeri asing ketika atlet Indonesia naik ke podium, tubuh-tubuh yang tidak saling mengenal rela berdiri dan menyatukan suara.
Padahal nada-nada dalam.lagu itu, jika dilepaskan dari sejarahnya, hanyalah susunan bunyi. Namun, manusia mempunyai kebiasaan memberi makna kepada benda-benda yang pada dirinya sendiri tidak bermakna.
Sehelai kain diberi nama bendera. Sekumpulan nada diberi nama lagu kebangsaan. Sebuah wilayah diberi nama negara. Kemudian jutaan orang rela berdiri untuk semuanya.
Sosiolog Prancis Emile Durkheim pernah berbicara tentang totem, sebuah objek fisik tempat manusia meletakkan nilai-nilai sakral dan cita-cita bersama. Totem bukan terutama benda, tapi ingatan yang mengambil bentuk benda.
Mungkin Merah Putih adalah salah satunya. Mungkin Indonesia Raya juga.
Ketika ribuan orang berdiri menghadap bendera dan menyanyikan lagu yang sama, terjadi sesuatu yang oleh Durkheim disebut collective effervescence, semacam luapan energi yang meleburkan ego individu dan mengubah kerumunan menjadi satu ikatan batin yang padu.
Batas antara “aku” dan “kamu” pun kabur berubah jadi "kita" yang tidak lagi sekadar sejumlah orang, tapi menjadi bangsa.
Indonesia Raya sebagai totem awalnya tidak diciptakan melalui keputusan politik. W.R. Soepratman hadir membawa biolanya ke dalam ruang sejarah pada saat "Indonesia" masih berupa gagasan ketimbang kenyataan.
Pada 1928, ketika W.R. Soepratman memainkan lagu itu untuk pertama kalinya di Kongres Pemuda II, Indonesia masih merupakan gagasan yang sumir. Belum ada negara bernama Indonesia; yang ada hanyalah gugusan pulau yang oleh pemerintah kolonial disebut Hindia Belanda.
Saat itu, Soepratman baru berusia 25 tahun. Ia lahir pada 9 Maret 1903 di Jatinegara, Batavia, dengan nama Wage Soepratman. (Versi lain menyebut Soepratman lahir pada 19 Maret 1903 di Purworejo, Jawa Tengah).
Ayahnya, Djoemeno Sastrosoehardjo, adalah seorang sersan mayor KNIL. Soepratman merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga besar yang sederhana.
Tidak ada yang istimewa pada Soepratman, jika ukuran keistimewaan adalah trah atau kekayaan.
Soepratman bukan jenderal perang dan bukan pula pejabat yang memiliki mimbar untuk menyampaikan pidato. Ia adalah wartawan dan musisi otodidak yang pernah bekerja untuk Kaoem Moeda dan Sin Po, dua surat kabar yang membawanya berhadapan langsung dengan perbincangan mengenai kebangkitan nasionalisme kaum muda pribumi.
Mungkin karena itulah, Soepratman memiliki cara melihat Indonesia yang agak berbeda. Ia datang bukan dengan seragam militer, melainkan dengan biola; Bukan dengan komando perang, melainkan dengan notasi musik.
Latar belakangnya yang bergumul dengan kata-kata dan nada itu membuat ia memahami sesuatu yang kadang luput dari para politikus. Baginya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh keputusan politik, tetapi juga oleh perasaan bahwa orang-orang yang berbeda sedang hidup di dalam cerita yang sama.
Karier jurnalistiknya memberinya semacam jendela untuk melihat masyarakat secara objektif. Di halaman koran, kebangkitan hadir sebagai keresahan, perdebatan, cita-cita, dan kegelisahan kaum muda. Soepratman menangkap denyut itu. Lalu ia menerjemahkannya ke dalam musik.
Soepratman bukan komponis yang lahir dari sebuah lembaga musik besar. Ia belajar secara otodidak. James R. Rush dalam Sejarah Indonesia Modern (2010) mencatat bahwa ia memperoleh pengetahuan musik ketika tinggal bersama kakak iparnya, Willem van Eldik, seorang pemain biola yang memberinya akses kepada instrumen dan partitur musik Barat sekaligus memberi tambahan nama "Rudolf".
Setelah mahir memainkan biola, Soepratman bersama Van Eldik membentuk sebuah grup musik yang diberi nama Black and White Jazz Band
Menurut catatan Museum Sumpah Pemuda, pada 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesische Clubgebouw , Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, Soepratman memperdengarkan Indonesia Raya melalui biolanya. Tanpa lirik.
Pengawasan kolonial terlalu ketat untuk memberi ruang bagi sebuah lagu yang terang-terangan menyebut Indonesia.
Maka sebuah lagu tentang negeri yang belum ada itu pertama-tama hadir sebagai musik.
Tidak ada ledakan maupun pekikan perang. Tidak ada pula pidato panjang atau manifesto revolusioner di dalam melodi itu. Hanya alunan nada yang mengalir pelan, perlahan-lahan memenuhi ruangan.
Peserta kongres hadir dari wilayah dan latar belakang yang beragam. Mereka membawa bahasa ibu yang berbeda, adat yang tak sama, hingga cara memandang dunia yang bervariasi.
Kita tidak tahu apa yang dirasakan para peserta Kongres Pemuda ketika mendengar gesekan biola Soepratman malam itu. Bisa jadi, mereka sejenak seolah-olah menangkap gaung dari sebuah "rumah" bersama yang masih abstrak.
Benedict Anderson, sejarawan yang banyak menghabiskan hidupnya memikirkan Indonesia dan Asia Tenggara, menyebut bangsa sebagai imagined community, sebuah komunitas yang anggotanya, sebagian besar, tidak akan pernah saling mengenal secara langsung, tetapi tetap membayangkan dirinya sebagai bagian dari satu persekutuan.
Di situlah Indonesia Raya menjadi lebih dari sebuah lagu. Ia memberi suara kepada "Indonesia" yang masih berupa imagined community.
Setelah diperdengarkan di Kongres Pemuda II, lagu itu menyebar melalui partitur dan media cetak, antara lain koran Sin Po pada November 1928. Indonesia Raya pun keluar dari gedung kongres dan bergerak ke tempat-tempat lain, melalui kertas, piringan hitam, pertunjukan, dan ingatan.
Lagu itu berjalan. Negaranya belum.
Musik memang mempunyai kemampuan yang tidak selalu dimiliki politik. Politik harus menjelaskan siapa yang termasuk dan siapa yang tidak. Musik cukup membuat orang menyanyi bersama.
Karena itu, lagu sering muncul dalam sejarah gerakan kebangsaan. Lagu tidak perlu menjelaskan seluruh ideologi, hanya perlu membuat orang merasa sedang berada di dalam satu cerita yang sama.
17 tahun kemudian, negara yang diimajinasikan itu baru terwujud. Indonesia Raya pun bebas mengalun. Bahkan, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, Pasal 58, kemudian menetapkan Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan dan menempatkannya sebagai identitas, perekat persatuan, sekaligus simbol eksistensi bangsa.
Sayangnya Soepratman tidak melihat semua itu. Ia meninggal di Surabaya pada 17 Agustus 1938. Ia tidak pernah mendengar Indonesia Raya dikumandangkan secara resmi sebagai lagu kebangsaan republik yang dicita-citakannya.
Negara datang terlambat. Lagu itu sudah lebih dahulu tiba.
Soepratman tidak menciptakan Indonesia. Ia menciptakan salah satu cara bagi orang-orang yang belum menjadi satu untuk membayangkan dirinya sebagai satu.
Itulah warisan terbesar Wage Rudolf Soepratman. Bukan semata-mata karena ia menciptakan lagu kebangsaan, melainkan karena ia memahami bahwa sebuah negara memang dapat diproklamasikan dalam satu pagi di Pegangsaan Timur, tetapi sebuah bangsa tidak pernah selesai diproklamasikan.
Bangsa dibangun perlahan melalui cerita yang dipercayai bersama, melalui simbol yang dihormati bersama, melalui ingatan yang diwariskan, dan melalui lagu yang meminta kita berdiri.
Maka setiap kali Indonesia Raya mengalun, kita tidak sedang mendengar sekadar sebuah komposisi musik. Kita sedang mendengar sebuah gagasan yang memilih menjadi melodi.
Karena, jauh sebelum republik memiliki istana, kabinet, tentara, atau garis perbatasan, Indonesia telah lebih dahulu hidup sebagai bayangan. Lalu diberi suara dan notasi yang tiba sebelum negara.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.