Jakarta -
Media sosial digemparkan oleh aksi pendaki yang diduga meninggalkan anaknya di Gunung Prau. Anak tersebut ditemukan oleh pendaki lain di dalam tenda.
Insiden ini terjadi pada Sabtu (17/10/2026). Melalui akun @ranger_prau, si ayah dari anak tersebut meminta maaf atas kelalaiannya saat itu.
"Saya selaku orang tua, ingin meminta maaf atas kelalaian saya dalam menjaga anak saya. Ini akan menjadi pelajaran buat saya untuk menjaga anak saya dengan lebih baik," ucapnya dalam video.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain meminta maaf, pria ini juga berterima kasih kepada pendaki lain yang campur tangan dalam menjaga sang buah hati. Seorang pendaki wanita terekam membantu proses menenangkan si anak.
"Saya ucapkan terima kasih kepada kakaknya yang telah menjaga anak saya. Kejadian ini menjadi teguran bagi saya selaku orang tua. Mohon maaf sebesar-besarnya," lanjutnya.
Dalam caption, pemilik akun menjelaskan kronologi berdasarkan pengakuan orang tuanya. Balita tersebut ikut mendaki bersama orang tua dan tidur di dalam tenda. Orang tuanya menitipkan si anak kepada temannya yang berada di tenda sebelah.
Sepertinya si anak sadar telah ditinggal orang tua. Ia kemudian bangun dan menangis sejadi-jadinya. Sementara itu, teman pendaki yang dimintai tolong untuk menjaga malah ketiduran di dalam tenda.
Tangisan anak yang begitu keras didengar oleh pendaki yang lewat. Sang anak kemudian ditemani oleh pendaki lain, seperti dalam video viral.
Melalui video permintaan maaf, ayah dari anak tersebut juga meminta agar video si anak segera dihapus.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun TikTok @alifs827, jagat maya langsung geger dan dibanjiri gelombang kecaman dari warganet. Rekaman yang memperlihatkan seorang balita menangis histeris sendirian di dalam tenda tanpa pengawasan orang dewasa. Apalagi Gunung Prau tengah memasuki musim panas yang memiliki angin dingin.
Peristiwa tersebut memicu kemarahan publik yang menilai tindakan orang tuanya sangat egois dan tidak bertanggung jawab. Kolom komentar langsung dipenuhi kritik tajam dari komunitas pendaki maupun masyarakat umum yang menyoroti betapa besarnya risiko hipotermia dan bahaya keselamatan yang mengancam nyawa sang anak demi ego mengejar matahari terbit.
Perdebatan sengit pun tak terhindarkan, di mana sebagian besar warganet mendesak pihak pengelola basecamp untuk segera mengusut kejadian tersebut dan memberikan sanksi tegas agar menjadi pelajaran bagi para orang tua yang membawa anak kecil ke alam bebas.
(bnl/ddn)