Jakarta -

Video viral usus besar bercorak kehitaman menyerupai kulit macan (melanosis coli) saat prosedur kolonoskopi sempat menyita perhatian publik. Kondisi ini disebut muncul akibat laxative abuse atau penyalahgunaan obat pencahar dan teh pelangsing.

Bagi seseorang yang terlanjur mengalami perubahan warna pada usus besar akibat kebiasaan mengonsumsi obat pelancar BAB, pertanyaan utamanya adalah: Apakah jaringan usus tersebut bisa dikembalikan menjadi normal, dan bagaimana cara memulihkannya?

Konsultan gastroenterohepatologi sekaligus ahli kolonoskopi, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, FINASIM menjelaskan pada dasarnya kondisi tersebut bisa pulih kembali. Ia menjelaskan langkah-langkah medis untuk memulihkan kondisi usus yang telah terdampak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bisa Kembali Normal, Meski Membutuhkan Waktu Lama

Kabar baiknya, perubahan warna atau pengendapan pigmen lipofuscin pada dinding usus akibat obat pencahar umumnya memang bersifat jinak dan tidak permanen. Menurut dr Aru, itu artinya usus yang bercorak kehitaman dapat kembali normal secara alami.

"Melanosis coli ini biasanya jinak, ya. Tidak berbahaya, ya, dan sifatnya reversible, jadi reversible sifatnya, dia bisa hilang. Tetapi hilangnya itu biasanya lama, ya. Dimulai dengan harus menghentikan obat pencahar," jelas dr Aru kepada detikcom, Jumat (2/10/2026).

"Kemudian, biasanya bisa hilang antara 6 sampai 1 tahun. 6 bulan sampai 1 tahun," katanya.

Proses pembersihan endapan pigmen tersebut tidak dapat dilakukan melalui tindakan medis khusus atau tindakan pembersihan manual oleh dokter, melainkan murni melalui mekanisme regenerasi sel tubuh secara mandiri.

"Iya, dari tubuh sendiri yang akan membersihkannya," tambahnya.

Langkah Memutus Ketergantungan

Tantangan terbesar setelah menghentikan obat pencahar adalah mengatasi keluhan sembelit berulang. Karena usus sudah terbiasa distimulasi secara paksa, pergerakan alaminya menjadi lambat begitu penggunaan obat dihentikan.

Untuk mengembalikan pergerakan usus secara alami, dr Aru merekomendasikan perbaikan gaya hidup secara disiplin sebagai terapi utama.

"Mungkin dimulai dengan memperbaiki gaya hidup, seperti memperbaiki pola makan, jadi tinggi serat, banyak minum air putih, olahraga, berjalan, habis makan nggak boleh berbaring, itu akan membantu gerakan usus, itu harus dikerjakan," ucapnya.

Perubahan pola harian ini berfungsi memicu gerakan peristaltik usus tanpa merusak jaringan mukosa di dalamnya.

Tata Laksana Medis Secara Komprehensif

Jika perubahan gaya hidup belum cukup membantu buang air besar secara teratur, pasien disarankan tidak kembali mengonsumsi teh pelangsing atau pencahar bebas. Penanganan harus berada di bawah pengawasan dokter guna mendapatkan terapi pengganti yang aman.

"Paling nggak kita stop dulu obat-obatannya, kemudian kita lakukan edukasi, kemudian kita berikan terapi-terapi yang sesuai dengan kondisi pasien seperti itu," terangnya.

"Yang kedua, biasanya nanti dokter akan memberikan obat-obatan yang sifatnya juga membantu untuk buang air besar, tetapi yang jenis lain yang tidak terlalu menyebabkan efek samping yang berat seperti ini," tutupnya.

Halaman 2 dari 2

Simak Video "Video: Punya Genetik 'High Risk Obesity'? Kenali Cara Menekan Risikonya"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)

Laxative Abuse

3 Konten

Sebuah video viral menunjukkan permukaan usus bermotif belang-belang seperti kulit macan, disebut efek laxative abuse. Tren penggunaan laxative atau pencahar untuk menurunkan berat badan secara instan lantas jadi sorotan.

Konten Selanjutnya