Unram mendorong pengembangan ekowisata berbasis konservasi Bagek Kembar
Lombok Barat (ANTARA) - Universitas Mataram (Unram) mendorong pengembangan model ekowisata berbasis konservasi agar mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mengelola kawasan mangrove Bagek Kembar di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Ketua Tim Pengabdian Program Profesor Berdampak Universitas Mataram Gito Hadiprayitno mengatakan kondisi eksisting Bagek Kembar dapat dikembangkan sebagai destinasi ekowisata yang potensial.
"Kawasan itu memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata melalui pengembangan wisata mangrove, kegiatan pengamatan burung, serta pengelolaan berbasis masyarakat," ujar Guru Besar Pendidikan Biologi Unram tersebut dalam pernyataan di Lombok Barat, Kamis.
Ekowisata Bagek Kembar awalnya merupakan kawasan bekas tambak yang terbengkalai. Pada 2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan mulai menginisiasi pemulihan bentang alam pesisir melalui aksi penanaman pohon mangrove sebanyak 120 ribu bibit mangrove.
Program penghijauan tersebut telah berhasil mengubah wajah kawasan gersang menjadi kawasan ekowisata yang teduh dan tertata dengan pepohonan mangrove setinggi lebih kurang dua meter yang menutupi pesisir.
"Potensi tersebut dinilai perlu didukung dengan penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penyusunan strategi pengelolaan yang berkelanjutan agar mampu memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar," ucap Gito yang memiliki keahlian bidang ekologi dan konservasi.
Universitas Mataram menyampaikan tiga aspek dalam pengembangan konsep dasar ekowisata di Bagek Kembar, yaitu konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Guru Besar Pendidikan Biologi Universitas Mataram Agil Al Idrus menilai Bagek Kembar memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi ekowisata unggulan di Pulau Lombok apabila didukung oleh peningkatan kapasitas dan kapabilitas para pengelola.
Ketua Yayasan Pengelola Ekowisata Bagek Kembar Agus Alwi berharap pendampingan yang diberikan Universitas Mataram melalui Program Profesor Berdampak dapat dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan diskusi.
Menurut dia, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola menjadi kebutuhan utama agar yayasan mampu mengelola kawasan ekowisata mangrove secara lebih profesional.
"Kami berharap adanya peran aktif perguruan tinggi sebagai konsultan dan mitra strategis dalam membimbing pengembangan kelembagaan serta pengelolaan ekowisata di masa mendatang," katanya.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026