asiawebawards.com
  • 2026-08-03 15:29:55 +0000 UTC

    Aug 03, 2026

    ULM dan NTU Singapura jajaki kolaborasi riset konservasi bekantan - ANTARA News Kalimantan Selatan

    Penjajakan kerja sama riset ini diawali kunjungan James Poh Hee Kim dari NTU yang meninjau ekosistem lahan basah, berdiskusi dengan tim konservasi lokal, serta mengeksplorasi potensi kolaborasi riset lintas negara,"

    Banjarmasin (ANTARA) - Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Nanyang Technological University (NTU) Singapura menjajaki kolaborasi riset konservasi bekantan di Pulau Curiak yang dikelola Dr Amalia Rezeki, pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) sekaligus dosen Pendidikan Biologi FKIP ULM.

    "Penjajakan kerja sama riset ini diawali kunjungan James Poh Hee Kim dari NTU yang meninjau ekosistem lahan basah, berdiskusi dengan tim konservasi lokal, serta mengeksplorasi potensi kolaborasi riset lintas negara," kata Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi ULM Dr Yusuf Azis di Banjarmasin, Senin.

    Yusuf mengungkapkan James Poh Hee Kim menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan Pulau Curiak di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan,, sebagai laboratorium alam yang dinilai sangat strategis bagi pusat edukasi ekologi. 

    James menyebut Pulau Curiak merupakan lokasi yang luar biasa untuk ekowisata dan studi suaka monyet hidung panjang. 

    Idealnya, kata dia, setiap siswa harus memiliki kesempatan untuk belajar alam Pulau Curiak agar memahami pentingnya konservasi dan keanekaragaman hayati. 

    "James mendorong penelitian lebih lanjut agar terus diperluas untuk memastikan perlindungan populasi monyet hidung panjang di masa depan," kata Yusuf menyampaikan pesan mantan Direktur Institutional Statistics dari NTU itu.

    Ketua Tim Reputasi dan Sustainability ULM Dr Mutiani turut menegaskan kehadiran akademisi internasional itu menjadi momentum penting dalam meningkatkan kancah global universitas. 

    Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya mempertegas peran ULM terhadap agenda SDGs, tetapi juga membuka peluang kerja sama riset dan publikasi ilmiah bersama mitra mancanegara.

    "Keberadaan Pulau Curiak sebagai laboratorium hidup diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan," katanya.

    Sementara Amalia Rezeki yang meraih gelar Doktor Konservasi Bekantan menjelaskan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak saat ini mengelola area seluas kurang lebih 10 hektare yang menjadi habitat bagi 61 bekantan.

    Selain perlindungan bekantan, kawasan ini juga menjalankan upaya konservasi biodiversitas untuk pelestarian berbagai jenis flora dan fauna. 

    Dia menyebut Pulau Curiak memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat penelitian sekaligus destinasi ekowisata (ecotourism). 

    "Kami berharap kolaborasi akademisi lintas negara dapat terus ditingkatkan untuk memperkuat pengembangan kawasan ini,” ucapnya.

    Pewarta: Firman
    Editor : Mahdani

    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-08-03 15:29:55 +0000 UTC