Ankara (ANTARA) - Turkiye membuka kemungkinan perluasan keanggotaan Perjanjian Pertahanan Makkah dalam waktu dekat di tengah konflik Arab Saudi- kelompok Houthi, ungkap sumber di kabinet Turkiye kepada RIA Novosti, Rabu.

"Tidak dapat dikesampingkan," kata sumber tersebut ketika ditanya mengenai kemungkinan perluasan perjanjian.

Kementerian Luar Negeri Turkiye telah membahas opsi tersebut dengan Kementerian Luar Negeri Mesir pada September. Namun, saat itu belum disebutkan jadwal konkret terkait perluasan perjanjian.

Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah ditandatangani Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan pada 7 Agustus.

Kesepakatan tersebut mengatur penguatan daya tangkal bersama, dengan serangan bersenjata terhadap salah satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Pada Senin, Turkiye dan Pakistan sepakat bergerak menuju penerapan kewajiban pertahanan bersama serta memastikan pengerahan cepat pasukan dan aset militer yang telah disepakati ke Arab Saudi berdasarkan perjanjian tersebut.

Keputusan itu diumumkan melalui pernyataan bersama setelah pertemuan Komite Strategis Politik dan Pertahanan Aliansi Makkah.

Turkiye sebelumnya juga menyatakan perjanjian tersebut terbuka bagi negara lain. Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan mengatakan visi kesepakatan itu tidak terbatas pada tiga negara dan berharap dapat diperluas ke negara-negara kawasan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, Selasa, mengatakan Kairo serius mempertimbangkan untuk bergabung dengan Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah.

Sumber pemerintah Turkiye mengatakan pengerahan pasukan Turkiye ke Arab Saudi, jika dilakukan, harus melalui berbagai prosedur hukum dan regulasi. Hingga kini belum ada jadwal khusus untuk pemindahan pasukan tersebut.

Sumber: Sputnik

Baca juga: Saudi cegat rudal Houthi, empat terluka dan 15 rumah rusak

Baca juga: ICRC: Eskalasi konflik Timur Tengah bisa jadi bencana

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.