Tokyo -

Distrik Shinjuku di Tokyo, Jepang, berencana melarang lebih dari separuh akomodasi sewa jangka pendek atau vacation rental atau dalam bahasa lokal disebut minpaku di wilayahnya. Kebijakan itu diambil setelah meningkatnya keluhan warga terhadap perilaku wisatawan.

Shinjuku dikenal sebagai salah satu kawasan paling ramai di Tokyo, dengan deretan pusat hiburan, perbelanjaan, dan kuliner yang menjadi magnet turis. Menurut data pemerintah setempat, kawasan ini memiliki sekitar 4.000 akomodasi sewa jangka pendek, hampir 10 persen dari total properti serupa di Jepang.

Namun, tingginya jumlah wisatawan mulai memicu ketegangan dengan warga lokal. Keluhan yang paling sering muncul berkaitan dengan sampah yang tidak dibuang sesuai aturan, merokok di area terlarang, hingga kebisingan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari AFP, Kamis (10/9/2026), Pemerintah Distrik Shinjuku tengah merevisi aturan yang akan melarang operasional akomodasi sewa jangka pendek di kawasan permukiman dan area yang berada di dekat sekolah.

"Seiring meningkatnya jumlah bisnis akomodasi sewa jangka pendek, keluhan dan berbagai masalah terkait juga ikut meningkat," ujar seorang pejabat Shinjuku yang menangani sektor tersebut.

Menurut pejabat tersebut, lebih dari 50 persen minpaku di Shinjuku berpotensi terdampak aturan baru. Kebijakan itu diperkirakan akan menyebabkan sekitar 2.000 properti ditutup, termasuk sejumlah unit yang dipasarkan melalui Airbnb.

Meski demikian, aturan tersebut hanya akan berlaku untuk properti yang saat ini beroperasi. Pemerintah Distrik Shinjuku dijadwalkan mengumumkan kebijakan tersebut secara resmi dalam waktu dekat.

Langkah Shinjuku muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap fenomena overtourism di Jepang.
Jepang, yang baru-baru ini dinobatkan sebagai "Destinasi Favorit Dunia" dalam ajang Condé Nast Traveler Readers' Choice Awards, menerima lebih dari 24,5 juta wisatawan asing sepanjang tujuh bulan pertama 2026.

Pemerintah Jepang menargetkan jumlah wisatawan mancanegara mencapai 60 juta orang pada 2030, naik dari 42 juta wisatawan pada 2025.

Namun, lonjakan kunjungan wisatawan juga memunculkan berbagai persoalan di sejumlah destinasi populer. Warga Kyoto dan kota-kota wisata lainnya sebelumnya juga mengeluhkan kerumunan turis, kemacetan, hingga melonjaknya harga properti.

Di Shinjuku, jumlah keluhan terkait akomodasi sewa jangka pendek meningkat sekitar 40 persen dalam satu tahun hingga Maret 2026.

"Banyak keluhan terkait pelanggaran aturan pembuangan sampah. Ada juga masalah merokok dan masuk ke area yang tidak seharusnya," kata pejabat tersebut.

Sejumlah warga mendukung rencana pembatasan itu. Masaru Sato, warga Shinjuku berusia 70-an tahun, menilai sebagian wisatawan maupun pengelola akomodasi tidak mematuhi aturan setempat.

"Wilayah ini menjadi kotor karena cara mereka membuang sampah sangat berantakan," ujar dia.

Pendapat serupa juga disampaikan wisatawan asal Amerika Serikat, Luke Jemison (24), yang menilai aturan tersebut masuk akal.

"Aturan ini masuk akal karena berkaitan dengan kebisingan," kata dia.

(fem/fem)