TSI: Mengelola kebun binatang harus menggunakan hati
Senin, 24 Agustus 2026 10:53 WIB
Arsip - Tony Sumampau saat menjelaskan peran penting media dalam mempromosikan eksistensi babi kutil endemik Indonesia kepada ANTARA, di Pasuruan, Kamis (5/2/2026). ANTARA/Fahmi Alfian
Bandung (ANTARA) - Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau menyebutkan mengelola kebun binatang harus menggunakan hati mengingat keberadaannya sebagai lembaga konservasi.
"Paling penting adalah hati untuk melindungi satwa," katanya di Cisarua, Bogor, Senin.
Ia menyebutkan dengan hati dalam mengelola kebun binatang, maka kesejahteraan satwa pun akan turut diperhatikan hingga populasi satwa pun bertambah. "Kembali lagi kita itu sebagai lembaga konservasi jadi apapun harus menggunakan hati," katanya mengingatkan.
Selain itu, mengelola lembaga konservasi juga harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. "Di TSI, masyarakat menjual wortel untuk satwa kepada pengunjung kemudian jika wortelnya tidak habis, kami akan membelinya," katanya.
Demikian juga dengan pengadaan rumput untuk satwa misalnya gajah yang memerlukan 10 sampai 15 ton rumput untuk setiap gajah. "Kami membelinya dari masyarakat," katanya.
Jadi, kata dia, dalam mengelola satwa di kebun binatang harus berdampak bagi kesejahteraan satwa juga kepada masyarakat setempat. "Hingga keberadaannya sangat dirasakan oleh semuanya," katanya.
Ia juga menyebutkan TSI setiap bulannya menyumbang Rp5 miliar dari sektor pajak kepada Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) Kabupaten Bogor. "Satu tahun bisa mencapai Rp50 miliar lebih. TSI posisi pertama penyumbang pajak paling besar untuk sektor restoran," katanya.
Seperti diketahui, Taman Safari Indonesia Bogor dapat menjadi pilihan wisata alam bagi lansia karena sebagian besar aktivitas dapat dilakukan tanpa harus berjalan jauh. Pengunjung dapat menikmati berbagai satwa melalui perjalanan menggunakan kendaraan.
Konsep wisata berbasis konservasi ini membuat lansia tetap bisa menikmati pengalaman melihat satwa dengan lebih nyaman tanpa aktivitas fisik berat.
Pewarta : Riza Fahriza
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026