asiawebawards.com
  • 2026-08-20 06:32:31 +0000 UTC

    Aug 20, 2026

    Trump Buat Gebrakan Baru, Siapkan "Perang Ekonomi" Terbesar di Dunia

    Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menaikkan tekanan terhadap Iran. Kali ini, Trump mengancam akan melancarkan apa yang disebutnya sebagai "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara manapun", sekaligus memperingatkan negara-negara yang membantu Tehran menghindari sanksi AS.

    Dalam unggahan di Truth Social, sebagaimana dikutip Kamis (20/8/2026), Trump menyebut langkah tersebut sebagai "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya."

    Trump juga menegaskan bahwa Iran telah diberi kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington, tetapi menurutnya Tehran gagal memanfaatkannya.

    Pilihan Redaksi

    • Iran Ancam ke Negara Arab Teluk, Beri Ultimatum Keras Bila Lakukan Ini
    • Alert! Utang AS Mau 'Meledak', Tembus Rp 712 Ribu T
    • Iran Buat Taktik Baru Lawan AS, Sebut Strategi Mematikan-Agresi Taktis

    "Tidak ada seorang pun yang telah memberi Republik Islam Iran kesempatan yang lebih besar untuk membuat kesepakatan selain saya," kata Trump. "Sayangnya, bagi mereka, mereka gagal mengambilnya."

    Trump mengeklaim kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan besar. Ia mengatakan angkatan laut, angkatan udara, serta fasilitas produksi militer Iran telah dihancurkan dan mata uang negara tersebut telah menjadi tidak bernilai.

    Menurut Trump, rezim Iran kini "bergantung pada seutas benang."

    Namun, ancaman Trump tidak hanya ditujukan kepada Iran. Ia juga memperingatkan negara lain yang masih memberikan dukungan ekonomi kepada Tehran.

    Trump mengatakan negara mana pun yang lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan "jalur kehidupan" kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar.

    Trump secara khusus menyebut sejumlah saluran yang menurutnya harus segera ditutup untuk mempersempit ruang gerak ekonomi Iran.

    Saluran tersebut mencakup penyelundupan minyak, jalur pertukaran mata uang , transfer uang tunai, rumah penukaran valuta asing, registrasi kapal, hingga perusahaan-perusahaan kedok atau front companies.

    Ia juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan memperoleh senjata nuklir.

    Ancaman terbaru tersebut memperluas kampanye tekanan ekonomi yang telah dijalankan pemerintahan Trump sejak April melalui Operation Economic Fury. Operasi tersebut ditujukan untuk memutus apa yang disebut Washington sebagai sumber pendanaan teror global dan aliran pendapatan rezim Iran.

    Namun, dari sisi Iran, kebijakan tersebut justru dipandang sebagai penghalang bagi penyelesaian konflik melalui perundingan.

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menuduh Washington meningkatkan tekanan sanksi setelah beberapa putaran sanksi sebelumnya gagal memaksa Tehran menyerah. Menurut Araghchi, pendekatan tersebut justru menjadi hambatan bagi upaya mencari jalan keluar melalui negosiasi.

    Meski demikian, pertanyaan terbesar mengenai efektivitas tekanan ekonomi AS terhadap Iran justru berada di China.

    Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, mengatakan China memiliki hubungan keuangan, logistik, dan perdagangan yang jauh lebih dalam dengan Iran dibandingkan negara lainnya.

    Menurut McNally, Beijing menjadi salah satu faktor paling menentukan apakah kampanye tekanan ekonomi Washington benar-benar mampu mengisolasi Tehran.

    China sendiri sebelumnya telah menunjukkan kesediaannya untuk melakukan tindakan balasan.

    Karena itu, kemampuan AS untuk menekan jaringan ekonomi Iran pada akhirnya akan sangat bergantung pada sejauh mana China bersedia mengikuti tekanan Washington.

    Dampak langsung ancaman sanksi baru Trump terhadap pasar minyak juga diperkirakan masih terbatas.

    McNally mengatakan pasar minyak kemungkinan besar tidak akan banyak bergerak hanya karena ancaman sanksi tersebut, kecuali para pemimpin garis keras Iran merespons dengan meningkatkan eskalasi militer.

    Namun, menurutnya, pasar mulai kehilangan optimisme mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat dan secara berkelanjutan.

    "Pasar minyak menjadi sedikit kurang optimistis mengenai pembukaan kembali Hormuz yang berkelanjutan dalam waktu dekat," ujar McNally program CNBC.

    Adpaun persoalan Selat Hormuz menjadi faktor penting dalam perkembangan terbaru tersebut.

    Lalu lintas kapal melalui jalur strategis itu masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang. Penargetan kapal oleh Iran dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran membuat sebagian besar operator kapal memilih menjauh dari jalur tersebut.

    Data dari Lloyd's List Intelligence menunjukkan hanya ada 73 transit kapal melalui Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 16 Agustus. Jumlah tersebut turun dari 91 transit pada pekan sebelumnya.

    Lloyd's List Intelligence menyebut hanya sekelompok kecil operator yang masih aktif melintasi jalur tersebut.

    Rendahnya aktivitas pelayaran menunjukkan bahwa gangguan terhadap salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia masih berlangsung. Kondisi tersebut juga membuat pasar minyak tetap sensitif terhadap perkembangan konflik Iran-AS, terutama jika ancaman ekonomi terbaru Trump diikuti respons militer dari Tehran.

    (luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

    2026-08-20 06:32:31 +0000 UTC