Trump "Ancam" Raja Salman Pakai Nuklir, Bawa-Bawa Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa kerja sama nuklir sipil antara AS dan Arab Saudi tidak akan berjalan jika kerajaan Raja Salman bin Abdulaziz itu belum menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel melalui Abraham Accords.
Ini mengacu pada serangkaian perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab- Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, Sudan- yang dimediasi oleh AS di masa pertama menjabat 2020.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis sore, sehari setelah penandatanganan kesepakatan kerja sama nuklir AS-Arab Saudi yang memicu perdebatan di Washington maupun Israel.
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menegaskan bahwa kesepakatan itu hanya mencakup penggunaan nuklir untuk tujuan sipil dan sama sekali tidak mengizinkan Arab Saudi memperkaya uranium maupun mengembangkan senjata nuklir.
"Tidak akan ada pengayaan uranium. Bantuan AS hanya untuk tujuan nonmiliter," tulis Trump dilihat Jumat (24/7/2026).
"Kesepakatan itu tidak akan berjalan sampai Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords yang sangat dihormati dan sukses," tegasnya.
Pernyataan Trump muncul setelah sejumlah pihak di Israel mempertanyakan isi kerja sama tersebut karena tidak mencantumkan kewajiban Arab Saudi menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Ketua Partai Demokrat Israel, Yair Golan, bahkan mengkritik Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu karena dinilai gagal menjadikan normalisasi hubungan Saudi-Israel sebagai syarat utama dalam kesepakatan tersebut.
"Netanyahu melakukan hal yang sebelumnya tampak mustahil. Ia kehilangan peluang normalisasi dengan Arab Saudi sekaligus membuka jalan bagi Saudi memperoleh kemampuan nuklir tanpa Israel menjadi bagian dari kesepakatan," kata Golan.
Netanyahu sendiri justru menyambut baik peluang Arab Saudi bergabung dalam Abraham Accords. Menurutnya, operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran telah membuka peluang memperluas "lingkaran perdamaian" di Timur Tengah.
"Seperti yang telah dikatakan Presiden Trump, bergabungnya Arab Saudi dalam Abraham Accords akan menjadi lompatan bersejarah bagi perdamaian di Timur Tengah," ujar Netanyahu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Arab Saudi merupakan mitra strategis Washington. Namun setiap kerja sama nuklir harus melalui proses persetujuan Kongres AS dan memenuhi standar ketat nonproliferasi.
Menteri Energi AS Chris Wright menjelaskan bahwa kesepakatan yang dikenal sebagai 123 Agreement akan menjadi landasan hukum bagi kemitraan nuklir sipil bernilai miliaran dolar antara kedua negara selama beberapa dekade ke depan. 123 Agreement adalah perjanjian kerja sama nuklir sipil antara Amerika Serikat dan negara lain berdasarkan Section 123 dari U.S. Atomic Energy Act of 1954.
(sef/sef)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]