Jakarta (ANTARA) - SMA Labschool menjadikan Trip Observasi (TO) 2026 sebagai upaya membentuk karakter siswa lewat kehidupan desa di Dusun Arjasari, Cikujang, Subang, Jawa Barat.
"Trip Observasi merupakan laboratorium kehidupan. Anak-anak tidak hanya belajar tentang kehidupan, tetapi mengalami kehidupan itu sendiri," kata Kepala SMA Labschool Kebayoran Suparno di Jakarta, Senin.
Sebanyak 299 siswa mengikuti kegiatan yang berlangsung selama lima hari itu, mulai 24 hingga 28 September 2026, dengan mengusung tema "Meningkatkan Wawasan Global Berbingkai Indonesia dan Semangat Kearifan Lokal".
Menurut Suparno, Trip Observasi tahun ini menghadirkan pengalaman belajar yang melampaui batas-batas ruang kelas.
"Selama lima hari, para siswa hidup, belajar, berinteraksi, dan bekerja bersama masyarakat desa untuk memahami Indonesia secara lebih dekat, bukan hanya melalui buku dan teori, tetapi melalui pengalaman nyata," jelas Suparno.
Baca juga: SMP Labschool siapkan generasi muda berwawasan global lewat NCP
Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2001, Trip Observasi menjadi salah satu tradisi pendidikan yang menempatkan kehidupan nyata sebagai laboratorium pembelajaran.
Siswa juga dihadapkan langsung dengan kehidupan masyarakat, lingkungan alam, tradisi, budaya, dan berbagai persoalan sosial yang ada di sekitar mereka.
"Dari sanalah mereka belajar tentang kemandirian, empati, tanggung jawab, gotong royong, kepemimpinan, kerja keras, sekaligus kemampuan melihat persoalan dari berbagai perspektif," ujar Suparno.
Wawasan global, kata dia, dapat tumbuh ketika siswa mampu memahami lingkungan terdekatnya, mengenali keragaman Indonesia, menghargai perbedaan, dan melihat hubungan antara persoalan lokal dengan kehidupan masyarakat dunia.
Maka dari itu, rangkaian kegiatan tersebut dirancang secara terstruktur melalui beberapa program utama, antara lain Pengenalan Kehidupan Desa (PKD), Pengetahuan Dasar Penelitian (PDP), Lintas Budaya, Pentas Seni, dan Penjelajahan.
Dalam PDP, siswa melakukan pengamatan dan pengumpulan data secara langsung di lapangan sehingga pengalaman sosial berubah menjadi proses penelitian sederhana.
Baca juga: Dua siswi SMA Labschool jadi juara kompetisi simulasi debat PBB di AS
Kemudian, melalui lintas budaya, siswa mengenal tradisi, nilai, dan budaya masyarakat lokal, sementara kreativitas siswa memperoleh ruang melalui pentas seni.
Selanjutnya, kegiatan penjelajahan di bentang alam pegunungan menjadi sarana untuk melatih keberanian, kemandirian, ketangguhan, solidaritas, dan kemampuan bekerja sama.
Lebih lanjut, Suparno mengatakan Trip Observasi itu juga menjadi ruang nyata untuk memperkuat tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Melalui kebiasaan itu, sambung dia, siswa belajar mengatur diri, menghargai waktu, bekerja sama, menjaga kesehatan, berinteraksi dengan masyarakat, serta menjalankan tanggung jawab pribadi dan kelompok.
Dia pun berharap Trip Observasi tahun ini dapat melahirkan siswa yang lebih mandiri, disiplin, peduli, sehat, mampu bekerja sama, berpikir kritis, kreatif, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Harapan kami, anak-anak tidak sekadar pulang membawa cerita dan pengalaman, mereka pulang sebagai pribadi yang lebih mandiri, disiplin, peduli, sehat, mampu bekerja sama, berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab," ungkap Suparno.
Baca juga: Labschool tanamkan 7 Kebiasaan Anak Hebat lewat observasi ke Wanayasa
Baca juga: Sudinhub Jaktim dan Labschool sepakati rekayasa parkir atasi kemacetan
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.