Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Gizi Nasional (BGN) mulai melakukan uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan pada Senin (5/10/2026). Uji coba itu dilakukan di lebih dari 60 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk menghadirkan MBG sistem prasmanan di sekolah.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, uji coba itu dilakukan untuk melihat efektivitas model prasmanan dalam menjaga kualitas makanan sekaligus mengurangi jeda waktu antara proses memasak dan konsumsi. Model yang disebut central kitchen ini sedang dikaji dan diuji coba dengan meniru sistem penyediaan makan sekolah di Jepang.

“Per hari ini, di tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas,” kata dia melalui keterangannya, Senin.

Ia menilai, sistem prasmanan akan membuat makanan yang disajikan langsung di kelas dapat dikonsumsi dalam kondisi lebih hangat dan segar. Pasalnya, waktu tunggu proses memasak hingga makanan disantap dapat ditekan.

“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu, sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” kata dia.

Selain berkaitan dengan kualitas dan keamanan pangan, menurut Sudaryono, sistem prasmanan juga memiliki potensi untuk mengurangi makanan yang terbuang. Sebab, penerima manfaat dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan, sementara makanan yang masih tersedia dapat dikonsumsi oleh penerima manfaat lainnya.

“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata dia.