Tim dosen FKI UMS perkuat literasi informasi anak dan guru di Sanggar Belajar Kepong Malaysia

Sabtu, 19 September 2026 12:15 WIB

Image Print

Suasana pembelajaran anak dan guru di Sanggar Belajar Kepong Malaysia. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Paparan informasi digital yang semakin mudah diakses anak usia sekolah dasar mendorong Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat literasi informasi bagi komunitas migran Indonesia di Malaysia.

Upaya tersebut dilakukan dosen Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) UMS melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema PkM-KI di Sanggar Belajar (SB) Kepong, Malaysia.

Program bertajuk “Penguatan Literasi Komunikasi pada Komunitas Migran melalui Pendekatan Community Engagement: Peningkatan Kapasitas Guru Sekolah Dasar dalam Literasi Informasi” tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam mendampingi anak menghadapi berbagai informasi dan konten digital.

Kegiatan yang diketuai Dr. Dian Purworini, S.Sos., M.M., bersama anggota tim Rona Rizkhy Bunga Chasana, Riski Apriliani, dan Endang Wahyu Pamungkas, melibatkan sebanyak 39 anak dan guru SB Kepong.

Program tersebut mengimplementasikan konsep literasi digital berbasis Social Cognitive Theory. Pendekatan ini diarahkan agar anak tidak hanya memahami konsep literasi informasi, tetapi juga mampu mengamati, mempertimbangkan, dan mempraktikkan perilaku bermedia yang lebih bijak.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pembelajaran bersama anak-anak SB Kepong. Ketua tim pengabdian, Dian Purworini, sekaligus Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi UMS, memperkenalkan konsep “SARING sebelum Sharing” sebagai prinsip sederhana dalam membangun kebiasaan literasi informasi.

“Anak-anak diajak memahami bahwa informasi yang ditemui melalui media sosial maupun ruang digital tidak selalu dapat langsung dipercaya atau dibagikan,” ungkap dosen Ilmu Komunikasi UMS, Sabtu.

Melalui prinsip tersebut, siswa dikenalkan pada kebiasaan untuk berhenti sejenak, mengenali informasi, memeriksa kebenarannya, serta mempertimbangkan dampak sebelum menyebarkannya kepada orang lain.

“Di era sekarang ini anak-anak semakin rentan terkena paparan konten yang misinformasi, disinformasi, dan malinformasi maupun meme yang mengandung bullying. Maka pengabdian ini diharapkan mampu memberikan tambahan bagi guru untuk menyelipkan pembelajaran terkait literasi ini kepada siswa,” tambah Dian.

Materi kemudian diperkuat melalui metode gamifikasi. Riski Apriliani dan Rona Rizkhy Bunga Chasana mengajak siswa bermain, bercerita, dan berdialog untuk melihat sejauh mana konsep literasi informasi dapat dipahami dan diterapkan.

Metode tersebut digunakan agar pembelajaran literasi informasi tidak hanya berlangsung melalui ceramah, tetapi juga melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Siswa diajak mengenali situasi ketika menerima informasi, melihat konten digital, maupun berinteraksi dengan teman di ruang digital.

Setelah sesi bersama siswa, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) bersama guru dan pengelola SB Kepong. FGD difokuskan pada pendampingan penggunaan Modul Literasi Informasi yang dikembangkan tim pengabdian. Modul tersebut memuat langkah-langkah untuk mengintegrasikan materi literasi informasi ke dalam proses pembelajaran anak.

Kepala Sekolah SB Kepong, Afif, menyambut baik program pengabdian yang dilakukan oleh tim UMS tersebut. Salah satu guru SB Kepong, Renggo, juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan manfaat dan wawasan baru bagi para guru.

Menurutnya, SB Kepong sebelumnya belum mendapatkan pendampingan secara khusus mengenai literasi informasi bagi anak.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim pengabdian UMS juga menyerahkan Modul dan Poster Literasi Informasi kepada SB Kepong. Materi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan guru sebagai bahan pendampingan dalam pembelajaran.

Melalui pendekatan community engagement, program tersebut menempatkan guru dan siswa tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran dan keberlanjutan program.

Penguatan kapasitas guru menjadi strategi agar pembelajaran literasi informasi dapat terus diterapkan dalam aktivitas pendidikan di SB Kepong. Dengan demikian, literasi informasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengabdian, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan belajar anak.

Program pengabdian tersebut telah dilaksanakan pada Kamis (17/9/2026) dan diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun budaya literasi informasi yang kritis, reflektif, dan bertanggung jawab di kalangan anak-anak komunitas migran, sekaligus memperkuat peran guru dalam mendampingi anak menghadapi tantangan informasi di era digital.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.