Tiga pegawai PT Air Minum Giri Menang dipanggil KPK
Selasa, 8 September 2026 22:53 WIB
Tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Sudirman (tengah) berjalan menuju ruang pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (8/9/2026). KPK melakukan pemeriksaan terhadap Direktur Utama PT Air Minum Giri Menang Lombok Barat tersebut sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa serta suap dan gratifikasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. ANTARA FOTO/Reno Esnir/sth/agr (ANTARA FOTO/RENO ESNIR)
Jakarta (ANTARA) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Kepala Gudang PT Air Minum Giri Menang (Perseroda) dan dua pegawai perusahaan tersebut untuk diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi yang menjerat Bupati Lombok Barat nonaktif Lalu Ahmad Zaini alias LAZ.
“KPK menjadwalkan pemeriksaan saksi atas nama HSM selaku Kepala Gudang PT AMGM (Air Minum Giri Menang), serta MAN dan SKM selaku pegawai PT AMGM,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada para jurnalis di Jakarta, Selasa.
Budi mengatakan ketiganya diagendakan diperiksa di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.
Sebelumnya, KPK pada Senin (7/9) memanggil Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lombok Barat Lalu Rudi Iskandar, SH selaku pegawai PT Air Minum Giri Menang, LR selaku Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Lombok Barat, HB dan NPU selaku pegawai PT Meconel Sistim Instrument, dan perwakilan LB Auto Sunter untuk diperiksa sebagai saksi.
Kasus tersebut bermula saat KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap Lalu Ahmad Zaini pada 20 Juli 2026.
Pada 21 Juli 2026, KPK menetapkan Lalu Ahmad Zaini dan Direktur Utama PT Air Minum Giri Menang Sudirman sebagai tersangka dugaan konflik kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa.
KPK juga menetapkan keduanya bersama Direktur Utama PT Meconel Sistim Instrument Alvonsus Gani sebagai tersangka dugaan suap di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Sementara itu, KPK menduga LAZ menerima uang hingga Rp12,4 miliar dari praktik korupsi.
Penerimaan uang tersebut terdiri atas Rp10,8 miliar dari dugaan konflik kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa, serta Rp1,6 miliar dalam bentuk suap seusai memenangkan PT Meconel Sistim Instrument dalam proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Pewarta : Rio Feisal
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.