Testosteron Rendah Bisa Ganggu Fokus hingga Performa Kerja
CNN Indonesia
Rabu, 29 Jul 2026 05:52 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama ini testosteron identik dengan kesuburan dan kemampuan seksual pria. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya keliru karena hormon tersebut berperan penting dalam pembentukan sperma. Namun, fungsinya ternyata jauh lebih luas.
Dokter spesialis andrologi di Eka Hospital BSD dan Eka Hospital Grand Family, Christian Christoper Sunnu, mengingatkan bahwa hormon testosteron tidak hanya berperan dalam kesehatan reproduksi pria. Hormon ini juga berpengaruh besar terhadap kondisi fisik, mental, hingga produktivitas sehari-hari.
"Kadar testosteron yang seimbang tidak hanya penting untuk fungsi reproduksi, tetapi juga memengaruhi suasana hati, energi, kemampuan berpikir, hingga performa seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari," ujar Sunnu dalam keterangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya, ketika kadar testosteron menurun, dampaknya bukan hanya dirasakan di kamar tidur. Kondisi ini juga bisa memengaruhi hubungan dengan pasangan, keluarga, hingga produktivitas di tempat kerja.
Peran testosteron bagi tubuh pria
Testosteron merupakan hormon utama yang berperan dalam perkembangan karakteristik seksual pria, seperti pertumbuhan rambut di wajah, pembentukan otot, hingga perkembangan organ reproduksi.
Selain itu, hormon ini juga memiliki sejumlah fungsi penting lainnya yakni sebagai berikut:
1. Menjaga performa seksual
Testosteron membantu mempertahankan gairah seksual sekaligus berperan dalam proses pembentukan sperma di testis. Kadar testosteron yang optimal berhubungan dengan kualitas dan kuantitas sperma, sehingga berpengaruh terhadap tingkat kesuburan pria.
Pilihan Redaksi
- 9 Kebiasaan yang Bisa Menurunkan Kesuburan Pria, Jangan Sepelekan
- 6 Kebiasaan yang Ternyata Menurunkan Kualitas Sperma, Pria Wajib Tahu
- 7 Makanan untuk Meningkatkan Produksi Testosteron, Penting bagi Pria
2. Menjaga energi dan stamina
Sejumlah penelitian menunjukkan pria dengan kadar testosteron rendah cenderung lebih mudah lelah dan kehilangan semangat beraktivitas. Hormon ini berperan menjaga energi sehingga tubuh tetap bugar untuk menjalani rutinitas harian.
3. Membantu menjaga suasana hati
Tak banyak yang menyadari bahwa testosteron juga berkaitan dengan kesehatan mental. Pria dengan kadar testosteron rendah diketahui lebih rentan mengalami perubahan suasana hati, mudah tersinggung, kelelahan, hingga depresi.
Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat memengaruhi hubungan dengan pasangan, keluarga, maupun rekan kerja.
4. Mendukung fungsi kognitif
Testosteron juga berkontribusi terhadap kemampuan berpikir. Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara kadar testosteron yang sehat dengan memori verbal, kecepatan berpikir, hingga kemampuan spasial.
5. Meningkatkan performa kerja
Kombinasi energi yang baik, suasana hati yang stabil, dan kemampuan berpikir yang optimal membuat pria lebih fokus dalam menyelesaikan pekerjaan maupun aktivitas lainnya.
6. Mendorong gaya hidup aktif
Testosteron juga memengaruhi rasa percaya diri, motivasi, dan semangat berkompetisi. Karena itu, hormon ini ikut berperan dalam mendorong seseorang tetap aktif berolahraga maupun menjalani aktivitas fisik lainnya.
Dampak testosteron rendah
Menurut Sunnu, kadar testosteron yang rendah lebih sering menjadi masalah dibandingkan kadar yang terlalu tinggi. Kondisi ini bahkan dikaitkan dengan sindrom metabolik, seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, obesitas, hingga gula darah tinggi.
Jika dibiarkan, risiko penyakit jantung dan stroke pun dapat meningkat. Selain itu, pria dengan testosteron rendah dapat mengalami berbagai keluhan, antara lain:
• perubahan suasana hati atau mood swing
• mudah stres atau depresi
• gairah seksual menurun
• disfungsi ereksi
• massa otot berkurang dan lemak tubuh meningkat
• sulit berkonsentrasi dan mudah lupa
• kelelahan kronis
• performa kerja menurun
• rambut menipis atau rontok
• kepadatan tulang menurun
• sulit tidur atau insomnia.
Cara mengatasi testosteron rendah
Apabila mengalami gejala yang mengarah pada testosteron rendah, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berkonsultasi ke dokter. Diagnosis umumnya ditegakkan melalui pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hormon testosteron.
Jika memang diperlukan, dokter dapat merujuk pasien ke dokter spesialis andrologi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Beberapa terapi yang dapat diberikan antara lain Testosterone Replacement Therapy (TRT) atau terapi penggantian testosteron.
Terapi ini menggunakan testosteron buatan yang tersedia dalam berbagai bentuk, seperti suntikan, gel atau krim, skin patch, tablet, hingga pelet yang ditanam di bawah kulit. Selain TRT, dokter juga dapat memberikan obat hormonal tertentu, seperti clomiphene citrate, yang pada beberapa penelitian terbukti mampu meningkatkan produksi testosteron dan jumlah sperma pada pria.
Dokter juga bisa merekomendasikan suplemen tertentu sebagai terapi pendukung, seperti vitamin D, zinc, magnesium, dehydroepiandrosterone (DHEA), L-arginine, maupun D-aspartic acid sesuai kondisi pasien.
Selain terapi medis, perubahan gaya hidup juga berperan penting dalam menjaga kadar testosteron tetap optimal.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain berolahraga secara rutin, terutama latihan beban (resistance training) selama sekitar 150 menit per minggu, mengonsumsi makanan bergizi dengan protein rendah lemak dan lemak sehat, mengelola stres, tidur 6-8 jam setiap malam, serta membatasi konsumsi alkohol.
"Masalah hormon testosteron bukan hanya berdampak pada kesehatan reproduksi, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, psikologis, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Karena itu, jangan ragu memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada testosteron rendah," kata Sunnu.
(tis/tis)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNN]