Jakarta -

Jangan buru-buru menganggap sapaan pramugari di pintu pesawat sekadar formalitas. Di balik senyum dan ucapan selamat datang, mereka ternyata sedang mengamati kondisi penumpang sekaligus memastikan penerbangan tetap aman.

"Senyum dan sapaan yang Anda terima di pintu pesawat itu bukan sekadar sambutan. Di baliknya, ada banyak hal yang sedang diamati dan dinilai," ujar Jay Robert, senior kru kabin sekaligus pendiri A Fly Guy Travels, kepada HuffPost, dikutip Minggu (23/8/2026).

"Kami menilai banyak hal dalam beberapa detik itu, dan percaya atau tidak, penilaian tersebut merupakan bagian dari pekerjaan kami," dia menambahkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengamatan tersebut mencakup berbagai hal, termasuk kondisi penumpang. Di antaranya, tanda-tanda mabuk, sakit, atau perilaku yang berpotensi mengganggu penerbangan.

"Menyapa penumpang di pintu pesawat adalah garis pertahanan pertama kami untuk mengidentifikasi potensi ancaman yang mungkin dibawa ke dalam pesawat," kata Robert. Menurutnya, menangani penumpang bermasalah sebelum pesawat lepas landas jauh lebih mudah dibandingkan setelah pesawat mengudara.

Pramugari juga memperhatikan tanda-tanda seperti bicara tidak jelas, kebingungan, sulit menjaga keseimbangan, wajah pucat, keringat berlebihan, hingga bau alkohol.

"Bicara tidak jelas, kebingungan, kesulitan menjaga keseimbangan, atau bau alkohol semuanya bisa menunjukkan seseorang sedang mabuk atau berada di bawah pengaruh zat tertentu," ujar Robert.

Bahkan, bau badan yang sangat menyengat juga dapat menjadi pertimbangan karena berpotensi mengganggu kenyamanan penumpang lain.

Selain kondisi penumpang, barang bawaan juga menjadi perhatian. Awak kabin memastikan tas memenuhi ketentuan dan tidak membawa benda berbahaya atau barang yang dilarang.

Dalam beberapa tahun terakhir, mereka juga dilatih mengenali tanda-tanda perdagangan manusia.

"Awak kabin di seluruh dunia kini mendapat pelatihan untuk mengenali indikasi bahwa seseorang mungkin menjadi korban dan mengetahui cara melaporkan kekhawatiran tersebut secara diam-diam," kata Robert.

Dalam penerbangan pramugari tidak hanya mencari potensi masalah, tetapi juga penumpang yang bisa membantu saat keadaan darurat.

Penumpang seperti tenaga medis, petugas pemadam kebakaran, anggota militer, aparat penegak hukum, atau orang yang terlihat mampu secara fisik dapat menjadi perhatian. Mereka dikenal sebagai able-bodied passengers (ABP), yang mungkin diminta membantu dalam situasi darurat.

Awak kabin juga memperhatikan penumpang yang mungkin membutuhkan bantuan tambahan, misalnya karena disabilitas atau kondisi tertentu.

"Dalam keadaan darurat, mengetahui penumpang mana yang mungkin membutuhkan bantuan tambahan atau penumpang mana yang terlihat sangat mampu membantu orang lain bisa menjadi informasi yang berharga," kata Yuvraj Datta dari Fareportal.

Robert menjelaskan kendati melalukan pengamatan dan penilaian, bukan berarti setiap sapaan pramugari adalah pemeriksaan serius. Mereka juga benar-benar menikmati interaksi dengan penumpang.

"Saat mengamati kabin, kami juga mencari penumpang yang benar-benar ingin kami ajak berinteraksi. Berlawanan dengan anggapan banyak orang, banyak pramugari sebenarnya menyukai orang lain," ujar Robert.

Dia mengungkap awak kabin terkadang sudah memperhatikan penumpang yang dianggap paling menarik sejak proses boarding.

"Itu singkatan dari 'Best On Board', yaitu penumpang yang menarik perhatian kami," kata dia.

(fem/fem)