asiawebawards.com
  • 2026-07-22 12:34:27 +0000 UTC

    Jul 22, 2026

    Terapi hormon pertumbuhan pada anak harus berdasar diagnosis - ANTARA News Kalimantan Barat

    Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Aman Bhakti Pulungan menekankan bahwa penerapan terapi hormon pertumbuhan pada anak harus berdasarkan diagnosis medis, tidak boleh dilakukan hanya untuk menambah tinggi badan.

    Dalam acara temu media via daring di Jakarta, Rabu, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.) mengatakan bahwa terapi hormon pertumbuhan pada anak sebaiknya dilakukan sedini mungkin sesuai dengan penyebab gangguan pertumbuhannya.

    "Kalau memang ada gangguan pertumbuhan dan bisa diterapi, tentu anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan potensinya," kata lulusan Universitas Indonesia itu.

    Ia menjelaskan bahwa tinggi badan anak masih berpeluang bertambah hingga berusia sekitar 17–18 tahun, terutama anak-anak yang mengalami keterlambatan pubertas.

    Dia mencontohkan, pemain sepak bola Lamine Yamal tinggi badannya masih bisa bertambah pada usia 17 tahun.

    Anak yang didiagnosis mengalami gangguan pertumbuhan semasa balita, menurut dia, bisa menjalani terapi hormon pertumbuhan sesuai dengan indikasi medis.

    "Yang terpenting adalah diagnosis. Begitu penyebabnya diketahui, terapinya bisa diberikan sesuai kondisi anak," kata Prof. Aman, yang punya pengalaman sekitar 30 tahun dalam menangani pasien yang menjalani terapi hormon.

    Prof. Aman mengatakan bahwa tidak semua anak bertumbuh pendek memerlukan terapi hormon pertumbuhan.

    Terapi hormon pertumbuhan, ia menjelaskan, dilakukan sesuai dengan penyebab yang mendasari gangguan pertumbuhan pada anak.

    Misalnya, anak dengan gangguan hormon tiroid akan diberi terapi hormon tiroid, anak dengan kelainan tulang bisa menjalani terapi untuk memperkuat tulang, dan remaja dengan keterlambatan pubertas bisa menjalani terapi hormon reproduksi sesuai indikasi.

    Tubuh pendek selama ini lebih sering dikaitkan dengan kekurangan gizi. Padahal, kondisi itu juga bisa terjadi karena masalah hormon dan kondisi medis yang lain.

    Prof. Aman mengingatkan bahwa memberikan makanan dengan kalori dan protein tinggi secara berlebihan pada anak dengan harapan tubuhnya bisa lebih tinggi bisa berdampak buruk bagi kesehatan jika tidak sesuai dengan kebutuhan anak.

    Konsumsi makanan dengan kalori dan protein tinggi secara berlebihan bisa menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas, yang selanjutnya dapat memicu berbagai masalah kesehatan.

    ​​​​​​​

    Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dokter: Terapi hormon pertumbuhan pada anak harus berdasar diagnosis

    Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
    Uploader : Admin Antarakalbar

    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-07-22 12:34:27 +0000 UTC